Part of My Life [Chap.1]


part of my life

Genre : Family, Romance, little comedy, little sad
Rating : Teen
Length : Chaptered
Casting : Oh Sehun, Park Daena (OC), Jung Minri (OC), Jung Hankyung (OC), others cameo

“Sehun-ah!”
Namja yang sedang asik menari itu tiba-tiba terlonjak. Dengan muka masam kesal dia pun memutar tubuhnya. Matanya terbelalak seketika melihat seorang wanita paruh baya sedang menggandeng dua orang anak.
“Eoh? Ahjumma, waeyo?”
PLETAK!

Sehun mengelus keningnya. “Waeyo?”
“Sejak tadi mereka mengetuk pintu rumahmu, sampai-sampai telingaku sakit mendengarnya. Dasar anak nakal.”
Namja itu mengerutkan keningnya bingung. “Mengetuk rumah? Aku tidak mendengar apapun.”
PLETAK!
“Ah.. ahjumma, appo.”
Wanita paruh baya itu tak peduli. Dia memilih menghampiri kedua anak itu.
“Kalian, sebenarnya ada apa mencari anak nakal itu?”
“Ahjumma.” Keluh Sehun sebal.
Salah seorang anak perempuan, memilih angkat bicara karena umurnya jauh lebih tua dari anak laki-laki disebelahnya.
“Suster, menyuruh kami, pergi ke alamat ini.”
Sehun melotot heboh. Dia buru-buru melangkah mendekati ketiga orang disana.
“Yaa, apa maksudmu suster? Kau pikir aku babysitter.”
Tapi sepertinya wanita paruh baya yang dipanggil ‘ahjumma’ oleh Sehun itu, mengerti maksud anak perempuan tersebut.
“Sepertinya kau mendapat amanah mengurus mereka.”
“MWO?!”
PLETAK!
“Yaa! Kecilkan suaramu, pabo!”
Untuk kesekian kali Sehun mendesis kesakitan.
“Suster yang merawat mereka sebelumnya, ingin kau berganti mengurus mereka. Anggaplah ini sebagai pelajaran mengurus anak.”
“Shireo! Ahjumma saja yang merawat mereka.”
“Yaa anak nakal! Kau tega membiarkan ahjummamu ini menderita mengurus 7 anak sekaligus? Kau yang bukan sepupuku saja, kurawat dengan baik. Apa kau tidak mengerti apa itu balas budi?”
Namja berkulit albino itu memutar bola matanya. Jika wanita itu sudah berkata seperti itu, Sehun tidak akan bisa mengelak karena memang semuanya benar. Ahjumma itu hanyalah tetangganya, yang dengan senang hati mengurusnya layaknya anak sendiri.
Wanita itu memaling pada kedua anak tersebut. senyum manis terukir diwajahnya.
“Ayo ahjumma antar kalian ke kamar.”
Tanpa meminta persetujuan sang empu rumah, ahjumma segera mengomando kedua anak berumur 7 dan 5 tahun itu ke sebuah ruang yang berguna sebagai kamar tamu.
Sebelum ketiganya menginjakkan kaki di ruang tersebut, ahjumma memberikan satu perintah pada Sehun.
“Angkut barang-barangnya!”
“Wae? Kenapa harus aku?”
Ahjumma memberikan tatapan sengitnya, akhirnya Sehun pun menurut.
~
Di meja makan ini, tidak hanya Sehun yang makan tapi juga dua orang baru. Mereka menyantap makanan yang diberikan Song ahjumma –tetangga Sehun-. Namja albino berusia 18 tahun ini terlihat makan dengan malas. Dia sangat benci, ada orang asing tinggal di rumahnya.
“Pelan-pelan, saeng.” Celetuk yeoja yang duduk dihadapan Sehun sambil mengusap sekitar bibir adiknya.
Sehun menatapnya sekilas.
“Darimana kalian?”
Kedua anak itu mengangkat kepala bersamaan.
“Panti asuhan.”
Sehun mengangguk lirih. Isi piringnya sudah ludes, ia pun segera bangkit kemudian berjalan mendekati tempat pencucian piring. Setelah mencuci tangan dan muka, dia langsung melesat kedalam kamar.
“Noona, hyung itu jahat.” Gumam namja berumur 5 tahun seraya menatap wajah kakaknya.
Sebagai kakak, yeoja itu tersenyum menghibur. “Ani, oppa itu baik. Hanya saja dia belum terlalu mengenal kita.”
Anak laki-laki itu mengangguk bak anak anjing yang patuh.
“Apa sudah selesai? Kemarikan, aku akan mencucinya.”
~
“Nanana..”
Senandung lirih menguap dari bibir tipisnya. Namja itu, Oh Sehun sedang berbaring santai ditempat tidurnya sambil menyumpal kedua telinganya dengan earphone.
Kriing kriiing
Matanya mengerjap bingung, ada panggilan masuk di ponselnya. Tertera nama seseorang dilayar ponsel tersebut. Dengan malas, ia menekan tombol hijau.
Yoboseyo..
“Eum, wae?”
Ish, dasar tidak sopan.
Sehun memutar bola matanya. Gadis disebrang sana memang sering membuatnya sakit kepala.
“Ada apa menelponku?”
Suara helaan nafas terdengar.
Kau lupa dengan janji kita kemarin? Sekarang aku sudah didepan rumahmu, cepat buka pintunya.
Sehun melirik sejenak jam dinding dihadapannya. Pukul 4, itu berarti janji one time sekarang.
“Hm, baiklah, kidaryeo.”
Ne
KLIK!
Dia segera melepas earphone, kemudian mengayunkan kaki jenjangnya keluar dari singgasana. Hari ini dia ada janji dengan teman sekelasnya, Park Daena untuk belajar bersama. Sebagai ahli matematika, Sehun memang mendapat tugas mulia untuk menjadi tutor sebaya Daena.
Melewati ruang televise, dia mendapati kedua anak itu terlelap di sofa. Dia memilih tak menggubris dan tetap melangkah menuju pintu depan.
CKLEK!
Seorang gadis berambut hitam legam bergelombang langsung mengangkat kepala saat pintu terbuka. Tangannya bergerak memasukkan ponsel kedalam saku coat.
“Lama sekali, aku hampir saja menelponmu lagi.”
Sehun mendesah malas. ia bergerak sedikit menyingkir. “Masuklah.”
Daena segera melangkahkan kakinya menginjakkan lantai rumah Sehun. Dia sudah 2 kali datang ke tempat ini, dan sekarang adalah kali ke 3. Gadis itu sudah biasa menjelajah rumah Sehun, bahkan dia langsung melesat ke ruang televise.
“OMO!”
Atas teriakannya, kedua anak yang terlelap disana terlonjak seketika. Mereka saling bertatapan hingga Sehun muncul dari belakang Daena.
“Sehunie.. apa mereka anakmu?”
Sehun mendengus sebal. “Nanti kujelaskan. Duduklah dulu.”
Daena menoleh kilat. Matanya memancarkan pengharapan agar Sehun segera menjelaskan. Melihat itu, Sehun membuang nafasnya lirih.
“Mereka bukan anakku, puas?”
Akhirnya Daena bisa bernafas lega. Entah kenapa dia sangat takut jika kedua anak itu benar-benar anak Sehun. Seperti ada sesuatu yang menyesakkan hatinya.
“Duduklah, aku ambil buku dulu.”
Yeoja itu menurut. Ia memilih untuk mendekati kedua anak manis itu.
“Annyeong, maaf mengganggu tidur kalian. Boleh kutahu, siapa nama kalian berdua?”
Meski kedua anak itu sedikit was-was dengan Daena, namun mereka bisa meminimalisir itu karena sebuah senyum mautnya.
“Aku, Jung Minri dan dia Jung Hankyung.”
Daena melebarkan senyumnya. “Nama yang bagus.”
“Gomapseummida.” Ujar kedua anak itu berbarengan.
Sehun pun muncul dengan membawa beberapa buku matematika. Ia segera mengambil duduk tepat disamping Daena. Karena disana sofa hanya tersedia dua set, satu ditempati oleh kedua anak bersaudara itu dan satunya lagi oleh Daena.
Sehun menatap sejenak Jung bersaudara. “Kalau mengantuk tidur di kamar, jangan disini.”
Daena menatap Sehun bingung. Dia sedikit tak suka dengan nada bicara teman sekelasnya ini.
“Joesonghammida.” Ujar Minri sambil membungkuk 45 derajat. Dia segera menarik tangan adiknya untuk pergi ke kamar.
Setelah kedua anak itu menghilang dibalik pintu kamar tamu, Daena pun menghujani Sehun dengan berbagai pertanyaan dan protes.
“Kau ini bagaimana sih? Mereka itu masih anak-anak, kenapa nada bicaramu seperti itu? Apa kau tidak punya hati? Apa otakmu hanya berisi rumus matematika? Kau harus memperlakukan mereka dengan lembut. Bahkan meski mereka bukan adik kandungmu.”
Sehun menatap lekat gadis disampingnya. Jujur, baru kali ini dia duduk sepersekian senti disamping seorang gadis muda. Bahkan dia baru menyadari sisi cantik perempuan itu.
Dipandangi seperti itu, membuat emosi Daena menguap.
“W-w-wae? Kenapa menatapku seperti itu?”
Sehun memalingkan pandangannya. “Kau sangat cerewet.”
Dan emosi Daena kembali tersulut. “Aku cerewet itu karena kau! Bagaimana bisa kau nantinya menjadi appa yang baik, kalau berbicara pada anak kecil saja dinginnya melebihi es kutub selatan. Hah.. ternyata memang bukan hanya pada gadis-gadis saja, pada anak-anak pun kau berlagak kasar.”
Suara itu hanya masuk telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan. Sehun memilih tak peduli. Walaupun dia sedikit protes karena es di kutub selatan sebenarnya tidak lebih dingin dari es di kutub utara.
“Ne, kita lanjutkan pembahasan itu lain waktu. Aku sedikit sibuk hari ini,”
Daena mendengus kesal. Namun dia memilih tidak berkomentar lagi dan mengambil buku-buku matematikanya.
~
Pukul 7 malam
Yeoja itu merenggangkan kedua tangannya keatas, kemudian menguap. Dia sama sekali tak memedulikan ekspresi ngeri dari namja disampingnya. Jangan panggil dia Daena, kalau dia tidak bersikap seunik itu.
“Hunnie.. apa kau tidak punya sesuatu untuk dimakan? Kau tahu, cacing di perutku sudah berdemo ingin melahap sesuatu,” ucap gadis itu sambil menatap kedua mata musang Sehun.
Namja itu menyandarkan punggungnya pada bantalan sofa. “Seharusnya kau lihat sendiri ke kulkas. Bukankah kau selalu bertindak seenakmu disini.”
Pernyataan itu membuat Daena tersenyum miring. Ternyata image nya sangat buruk dimata Oh Sehun.
“Kau benar! Baiklah, aku akan hancurkan dapurmu.”
Setelah memberikan senyum iblisnya, Daena langsung beringsut menuju dapur. Melihat hal itu, Sehun hanya mendesah malas.
“Pasti ahjumma akan membunuhku besok,” gumamnya kemudian.
Beberapa menit setelahnya, terdengar suara gaduh serta aneh dari dapur. Bahkan terdengar pula omelan dan teriakan dari sana. Sehun segera bangkit dan melesat ke tempat itu.
“Yaa! Tidak perlu berteriak, agasshi.”
Daena tak peduli. Dia masih sibuk mengobrak-abrik isi kulkas.
“Yaa! Apa kau ini manusia kaleng?! Kenapa makanan disini hanya makanan kaleng? Apa kau tidak bisa memasak?”
Sehun berjalan mendekat. “Ne, aku memang manusia kaleng. Apa sudah selesai acara menghancurkan dapurku ini?”
Gadis itu menutup pintu kulkas setelah mengambil satu botol besar berisi minuman soda.
“Belum. Tapi aku malas melanjutkan. Ah ya.. apa Jung bersaudara sudah makan? Ya ampun! Kau sama sekali tidak memedulikan mereka.”
Dia berikan botol itu pada Sehun, kemudian melesat menuju kamar tamu. Sehun hanya mengikuti langkahnya.
TOK TOK TOK! CKLEK!
“Oh? Eonni, waeyo?”
“Mana adikmu?” Daena balik bertanya.
Orang yang sedang dipertanyakan itu muncul dari balik bahu Minri.
“Ne, noona-nim?”
“Kalian belum makan malam kan?”
Kedua anak itu mengangguk lirih. Daena pun segera menggandeng kedua lengan anak tersebut, kemudian memutar tubuhnya menghadap Sehun.
“Hunnie, ayo kita makan diluar.”
Namja itu melotot tak suka. “Yaa! Kau pikir aku-”
“Ayolah Hunnie..” jurus puppy eyes pun digunakan. Sehun sangat anti dengan jurus itu. Mau tak mau dia menyetujuinya.
“Baiklah. Makan di rumah Song ahjumma saja.”
“Hunnie…”
Sehun mendesah sambil mengacak rambutnya. “Keurae keurae. Aku akan memanaskan mobil dulu.”
Senyum bahagia pun terukir diwajah cantik Daena. “Gomawo-yo Hunnie.”
“Hm. Suruh mereka ganti pakaian.”
Daena mengangguk semangat. Sehun segera melesat ke garasi, sedangkan Daena membantu kedua anak itu mengganti pakaian.
5 menit berlalu..
“Minri-ya, Hankyung-ah, kalian ingin makan apa?” tanya Daena saat mereka berempat sudah berada di dalam mobil Sehun. Jung bersaudara duduk di jok belakang, sedangkan Sehun Daena didepan.
“Terserah eonni saja.” Jawab Minri ragu.
“Noona.. aku mau ayam.” Celetuk Hankyung sedikit lirih pada Minri. Tapi Daena bisa mendengarnya.
“Baiklah, kita makan ayam. Oh ya, apa kalian ingin es krim juga?”
Sehun menoleh cepat. Dia memberikan suatu tatapan seperti mengatakan, ‘jangan acara lain’. Tapi, Daena tidak peduli. Gadis itu melihat kedua anak tersebut mengangguk pelan.
“Yap. Oh Sehunie.. bisakah setelah kita makan ayam, kita pergi ke kedai es krim? Aku juga sedang ingin makan es krim. Bisa ya?”
Lagi-lagi jurus puppy eyes. Sehun segera memaling kedepan.
“Ne, hanya untuk hari ini. Awas jika kau ulangi lagi.”
Daena mengangguk cepat. “Ye! Hanya untuk hari ini. Aku janji.”
Mobil pun bergerak pelan meninggalkan rumah bertingkat dua itu. Mereka pergi menuju jalan Hongdae, disana terdapat sebuah restoran ayam yang berdiri berhadapan dengan kedai es krim.
Oh Sehun, adalah seorang namja berumur 18 tahun yang kini duduk di kelas 2 sekolah menengah atas. Dia sejak SMP sudah hidup sendiri. Kedua orang tuanya bercerai, dan hak asuh dirinya dipegang oleh ayahnya. Dia diberikan rumah itu, lengkap dengan segala fasilitas yang dibutuhkan. Awalnya Sehun memiliki beberapa pembantu dan seorang supir, namun sejak dia masuk SMA, dia sudah memberhentikan mereka semua. Song In Joo, tetangga samping rumahnya itu kini mengurusnya. Dia dirawat layaknya anak sendiri. Sehingga Sehun memanggilnya ahjumma. Wanita itu memiliki 4 orang anak yang semuanya berumur dibawah Sehun. Setiap bulannya, Sehun pasti akan mendapatkan kiriman uang dari ayahnya melalui rekening. Jadi wajar saja dia memiliki 4 credit card berwarna hitam di dompetnya.
Mobil keluaran terbaru itu menepi di depan sebuah restoran ayam. Mereka berempat turun dari mobil itu kemudian berjalan masuk. Dua pelayan namja menyapa mereka ramah, kemudian mengomando mereka menuju sebuah meja di sudut ruangan. Sepertinya, hari ini suasana restoran sangat ramai.
“Tolong ayam krispinya dan bubble tea 4,” ucap Daena pada pelayan itu.
“Baik, nona.”
Namja itu berlalu.
Daena memalingkan pandangan pada ketiga orang lainnya.
“Kenapa tidak saling mengobrol? Bukankah kalian saudara sekarang?”
Sehun bukannya menjawab, tapi malah menyumpal telinganya dengan earphone. Daena mengerucutkan bibirnya.
“Dasar namja ini.” Ketusnya lirih. Beruntung Sehun sudah memplay sebuah lagu saat dia berucap seperti itu.
Akhirnya dia alihkan pandangan pada Jung bersaudara.
“Bagaimana Sehun memperlakukan kalian?”
Kedua anak itu saling berpandangan, tatapan mereka menunjukkan sebuah perasaan ragu dan takut. Dari situasi ini, Daena tersenyum menghibur.
“Tidak apa, si namja pabo itu tidak mendengar kalian. Bicaralah.”
Setelah keduanya merasa yakin, mereka pun mengucapkan isi hati mereka bersamaan.
“Kasar.”
“Jahat.”
Reflek Sehun membuka matanya. Kedua anak itu langsung menunduk takut. Daena menghela nafasnya. Tangannya terulur, menyentuh punggung tangan Sehun yang tergeletak diatas meja. Diperlakukan seperti itu, pancaran mata Sehun berubah lembut.
“Jujur itu lebih baik, Hunnie. Mereka mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Kalau mereka tidak mengatakannya sekarang, bisa-bisa mereka akan selalu merasa takut padamu. Sudahlah, mulai saat ini kau harus menerima keberadaan mereka. Sebentar lagi mereka akan menjadi bagian dari hidupmu. Kau pun tidak akan kesepian lagi.”
Perkataan itu bagaikan air terjun yang menghujani hati kecil Sehun. Karena terlalu lama hidup sendiri, dia tidak bisa dengan mudah bersosialisasi dengan orang lain. Ada perasaan takut. Dia takut jika orang yang sudah terlanjur dia sayang, akan meninggalkannya seperti fakta perceraian kedua orang tuanya. Dia bahkan hanya satu kali merasakan namanya cinta pada seorang gadis, itu pun dia coba singkirkan jauh-jauh.
Entah dia sadar atau tidak, dia menggenggam erat tangan mungil itu. Matanya menatap lurus hanya pada gadis dihadapannya.
“Maukah kau… membantuku mengurus mereka?”
Tercetak jelas ekspresi terkejut dari wajah Daena. Dia tidak mengira kalau Sehun akan meminta padanya hal seperti itu.
“Aku ini namja dan masih 18 tahun. Sebelumnya aku tidak mempunyai saudara. Jadi aku tidak tahu bagaimana caranya mengurus anak-anak. Karena kau satu-satunya temanku, kau mau kan, membantuku?”
Hening.
“Pesanan datang.” Celetuk pelayan namja yang tiba-tiba datang dengan membawa dua nampan berisi 4 porsi ayam krispi dan 4 cup bubble tea.
Daena reflek menjauhkan tangannya, begitupun Sehun.
“Silakan dinikmati.”
“Kamsahammida.” Balas keempat orang itu bersamaan.
Tak tahu harus melakukan apa, karena suasana sangat awkward. Daena akhirnya memilih untuk memaling pada kedua anak kecil diantara mereka berempat.
“Makanlah yang banyak. Kalau ingin nambah, silakan saja. Yang pasti nanti kalian bisa tidur nyenyak.”
Kedua anak itu mengangguk patuh, kemudian mulai melahap makanan mereka. Daena pun menoleh pada Sehun. Kedua mata mereka saling bertemu. Acara tatap menatap itu terlihat sedikit canggung. Hingga akhirnya Daena mencairkan suasana itu dengan eye smile nya.
“Makanlah Hunnie. Aku tahu, manusia kaleng pasti jarang makan makanan seperti ini.”
Sesuatu yang hangat dan manis kembali muncul dalam batin namja 18 tahun itu. Sesungguhnya dia ingin sekali tersenyum senang, tapi untuk menjaga image cool nya, dia hanya membalasnya dengan anggukan. Meskipun dia tahu, Daena tidak akan mempermasalahkan hal ini, namun perasaan sesak akan terus menghantuinya.
Setelah acara makan bersama itu selesai, sesuai rencana Daena menggandeng kedua anak itu ke kedai es krim disebrang restoran. Sehun sangat tidak berminat sebenarnya, tapi karena dia tak mau ditinggal seorang diri, dia memilih ikut.
“Wah.. es krim.” Gumam Hankyung saat mereka sudah berada di dalam kedai.
Daena tersenyum mendengar pernyataan anak kecil itu.
“Hankyung suka es rasa apa?”
Namja 5 tahun tersebut mendongak. Matanya yang bulat itu membuat wajahnya semakin cute.
“Coklat.”
Daena mengangguk lirih kemudian mengalihkan pandangan pada Minri.
“Kau sayang?”
Yeoja kecil itu memancarkan perasaan ragu dari kedua manic matanya. Namun karena dia terlibat acara tatap menatap yang cukup lama dengan Daena, akhirnya ia pun menjawab.
“Strawberry.”
“Keurae! Aku akan pilih rasa vanilla. Sehunie?”
Namja tinggi yang sedang asyik bermain ponsel itu buru-buru angkat kepala. Ketiga orang disampingnya ternyata sedang menatapnya.
“Aku tidak suka manis.”
“Keurae! Kaja aegy, kita pesan es krim kita.”
Dia dengan semangat membara, segera mengomando kedua anak itu ke meja pemesanan. Di tempat itu sudah ada seorang pelayan wanita dengan seragam khas kedai, yang langsung menyapa mereka ramah.
Daena menunjuk rasa-rasa yang dipesan. Dia pun menunjuk pernak-pernik seperti waffle dan jelly yang berguna sebagai pelengkap hidangan.
Ketiganya melangkah menuju sebuah meja disudut ruangan yang mana disana Sehun sudah menunggu. Hankyung Minri sama-sama duduk berhadapan, sedang Daena duduk tepat dihadapan Sehun. Gadis itu membawa dua gelas es krim. Dia sodorkan satu gelas es krim rasa kopi tepat dihadapan namja tinggi itu.
Sehun buru-buru mengangkat kepalanya.
“Yaa! Untuk siapa ini?”
“Tentu saja kau.” Jawab Daena ketus.
Remaja albino ini mengalihkan pandangan pada es didekat tangannya kemudian kembali menatap Daena.
“Sudah kubilang aku tidak suka manis. Kenapa kau keras kepala sekali, sih?”
Gadis itu menatap Sehun sekilas. “Ne, aku tahu. Maka dari itu aku mengambil rasa kopi.”
Sehun mendesah lelah. Dia menyandarkan punggungnya sedikit kasar, kemudian melipat kedua tangannya didepan dada.
“Wae? Kau tetap tidak mau? Eum.. kalau begitu aku habiskan.”
Dia menangkap pergelangan tangan Daena yang akan merebut gelas es nya. Meski sebal juga berhadapan dengan gadis ini, tapi lagi-lagi sesuatu membuat Sehun tak tega menyakitinya.
“Kalau sampai rasanya manis, kau harus bertanggung jawab nantinya.”
Daena segera menarik kembali tangannya kemudian mengangguk yakin. “Ne, aku pasti akan bertanggung jawab. Tapi kalau rasanya pahit, itu konsekuensimu sendiri, kau bilang tidak suka manis kan?”
Lagi-lagi namja itu mendesah lelah. Ia mulai menyendokkan es krim berwarna coklat tanah itu kedalam mulutnya.
1 detik..
2 detik..
3 detik..
“UHUK!”
Daena buru-buru bangkit dan berlari memutar ketempat Sehun berada. Tangan kanannya mengelus punggung lebar namja itu sedangkan tangannya yang lain menarik gelas es krim miliknya. Tanpa perlu disuruh, Sehun menyendokkan es krim milik Daena kedalam mulutnya. Ajaib, rasa aneh di lidahnya berubah manis.
Kepalanya pun mendongak melihat wajah gadis itu dari bawah. Dia bisa menemukan gurat khawatir disana.
“Kau baik-baik saja kan? Katakan, apa dadamu sesak, atau-”
Gadis itu tidak melanjutkan ucapannya saat Sehun menyentuh lembut tangannya.
“Ne, aku baik.”
Daena akhirnya bernafas lega. Dia langsung menarik tangannya dari genggaman Sehun untuk mengambil gelas es krim milik temannya itu.
“Kau tidak alergi manis kan? Bagaimana kalau aku mintakan saus coklat? Sepertinya ini terlalu pahit.”
Namja itu terdiam sejenak, kemudian mengangguk pelan. Sikapnya itu malah membuat Daena tersenyum geli.
“Kyeopta.”
Sehun sedikit tak terima dengan pernyataan itu. Bagaimana bisa image coolnya berubah cute? Diapun berdehem pelan dan sesaat kemudian Daena melesat ke meja pemesanan. Gadis itu kembali beberapa menit kemudian dengan gelas es krim yang sudah sedikit dipenuhi dengan krim coklat kental.
“Mianhae, kupikir es krim kopi sedikit manis. Aku janji tidak akan mengulangi kejadian ini. Mianhae-yo Hunnie.”
Sehun mengangguk pelan sambil menarik gelas es krimnya dan mendorong gelas es krim Daena.
1 detik..
3 detik..
5 detik..
Mata namja tinggi itu melotot heboh, begitupun Daena. Mereka baru menyadari kalau…
“Bukannya tadi kau pakai sendokku?”
“….ne…”
CTAR! DUAR!
“Itu artinya….”
Hening sejenak. Akhirnya mereka pun memaling. Daena memilih memanggil pelayan untuk mengganti sendoknya. Dia tidak mau makan satu sendok lagi dengan Sehun. Karena itu artinya, telah terjadi k*ss tak langsung diantara mereka.
~
Pukul 9 malam..
Mobil berhenti tertib didalam garasi. Keempat orang didalamnya segera keluar kemudian masuk kedalam rumah. Daena menyuruh kedua anak itu untuk segera tidur, sedangkan dirinya, dia akan pulang sesaat setelah mengambil barang-barangnya.
Sehun baru saja keluar dari kamar ketika Daena sedang memakai sepatu. Kejadian di kedai tadi, memang masih membayanginya, namun dia juga tidak tega membiarkan seorang gadis muda pulang sendiri di malam hari seperti ini.
“Kau mau pulang?”
Gadis itu memutar tubuhnya, kemudian mengangguk.
“Akan kuantar.”
“Tidak perlu, aku bisa pulang dengan bus.”
Sehun menatap dalam gadis dihadapannya. “Ini sudah malam. Tidak apa pulang sendiri?”
Daena tersenyum yakin. “Tidak apa. Aku sudah biasa pulang malam. Bukankah sekolah kita bahkan pulang jam 10? Jam 9 itu belum terlalu malam, Hunnie.”
Antara yakin dan tidak, Sehun mengangguk paham. “Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan mengantarmu sampai halte.”
“Tidak per-”
Namja itu sudah berlalu sebelum dia melanjutkan ucapannya. Daena bernafas pasrah karena Sehun pasti tidak akan menerima penolakan untuk permintaan keduanya.
Mobil itu melaju pelan menjauhi gang komplek rumah Sehun berada. Didalam mobil suasana hening. Sehun memfokuskan perhatiannya pada jalanan, sedangkan Daena terdiam merenung menatap keluar jendela.
“Dimana rumahmu?”
Gadis itu menoleh. “Kau tidak sedang ingin mengantarku sampai rumah kan?”
Sehun menggeleng pelan. “Aku hanya bertanya.”
“Aku tinggal di apartemen dekat Myeongdong.”
“Orangtuamu?”
Daena membuang pandangannya keluar jendela. “Mereka ada di Busan.”
Sehun melirik gadis itu sekilas. “Kenapa mereka disana?”
“Sebenarnya aku asli Busan, hanya saja eomma appa menyuruhku pergi ke Seoul. Mereka ingin aku menempuh pendidikan yang lebih baik di kota ini.”
“Oh.. apa kau tidak punya saudara disini?”
“Ani. Aku sendiri. Dua adikku masih sangat kecil, kedua orang tuaku juga tidak punya sanak saudara. Yah.. disini aku tinggal sendiri. Membosankan.”
Namja itu tersenyum samar. Ternyata orang lain pun sama dengannya, bedanya hanya pada keberadaan orang tua. Tapi, Sehun merasa dirinya lebih beruntung karena masih ada Song ahjumma yang mau menemaninya disini.
10 menit berlalu..
Mobil itu berhenti didepan sebuah halte. Tapi ada yang tidak wajar, Daena merasa halte ini sangat familiar menurutnya.
“Hunie, bukannya… ini halte Myeongdong?”
Namja itu menoleh, lalu mengangguk polos. “Memang. Wae?”
Gadis itu menoleh cepat dan memberikan sebuah death glare. “Yaa! Aku hanya memintamu mengantarku ke halte dekat rumahmu. Kenapa kau malah mengantarku ke halte ini? Itu sama saja bohong, Hunie..”
Namja itu menggendikkan bahunya. “Yang pasti aku tidak mengantarmu sampai apartemenmu kan? Itu berarti aku melakukan sesuai perintah.”
Gadis itu mengacak rambutnya frustasi. “Terserah kau sajalah!”
Sehun mendekap mulutnya berusaha menahan tawa. Saat kesal, Daena memang terlihat sangat lucu.
“Mianhae.. aku hanya sedikit khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu padamu. Semua namja baik, pasti tidak akan tega membiarkan seorang gadis pulang sendiri dimalam seperti ini. Resikonya terlalu besar.”
Daena merapikan rambutnya dengan bentuk bibir mengerucut. “Kau itu narsis sekali. Sejak kapan kau menjadi namja baik, huh? Minri dan Hankyung saja mengatakan kalau kau itu jahat.”
“Ne, aku memang narsis. Sekarang keluarlah, aku ingin segera pulang dan tidur.”
“Keurae. Lagipula siapa juga yang ingin berlama-lama di mobilmu. Membosankan.”
Gadis itu langsung turun kemudian membanting pintu. Sehun sedikit terlonjak dari tempat duduknya.
“Yeoja itu benar-benar.”
Sebelum dia menghidupkan mesin, dia tiba-tiba menyadari sesuatu. Segera dirinya turun dan mobil dan berlari mengejar gadis tersebut. Akhirnya tangannya berhasil menangkap pergelangan tangan Daena.
“Apa lagi? Kau ingin mengantarku sampai apartemen?”
Sehun melepaskan cengkramannya. “Kau belum menjawab pertanyaanku.”
Gadis itu mengerutkan keningnya. “Pertanyaan yang mana?”
Sehun mengusap tengkuknya. “Yang di… restoran tadi.”
Daena masih terdiam, sesaat kemudian dia teringat sesuatu. “Ah.. itu. Tentu saja! Tanpa kau memintanya pun aku pasti sudah melakukannya. Mereka seperti adik-adikku, aku pasti mengurus mereka dan tidak akan membiarkanmu mengurus mereka sendiri.”
Tanpa disadari senyum diwajah Sehun mengembang. Hal itu memicu senyum juga diwajah Daena.
“Daena-ya.. aku… berterima kasih sekali padamu.”
“Ne, nado.”
Hening.
“Ah, kau harus segera pulang. Anak-anak tidak boleh dibiarkan di rumah sendiri tanpa orang dewasa. Besok pagi aku akan kesana memasakkan sesuatu untuk sarapan kalian.”
Sehun mengangguk lirih dengan senyum yang tetap mengembang. “Baiklah. Besok telepon aku sebelum kau kesana. Aku pulang dulu. Sampai jumpa.”
Namja itu langsung melesat pergi dengan mobilnya.
“Aku tidak pernah melihat senyum itu sebelumnya. Aku yakin dia memang sangat membutuhkan teman.”
Gadis itu berjalan menuju apartemennya yang hanya beberapa puluh meter dari halte itu. Setelah naik ke lantai 3 –tempat tinggalnya berada-, dia sedikit dikejutkan dengan coretan-coretan tak berperikemanusiaan yang berada di pintu apartemennya. Coretan itu berisi hinaan, ejekan dan kata-kata kotor yang mengacu padanya. Dia hanya bisa mendesah pasrah.
CKLEK!
Pintu disamping apartemennya terbuka. Muncullah seorang wanita paruh baya tetangganya.
“Annyeongha-”
“Lebih baik kau pergi dari tempat ini.”
Daena tersentak. “Ma-ma-maksud anda, nyonya?”
“Kepalaku sakit mendengar teriakan gadis-gadis itu! Aku tidak tahu apa kesalahanmu, tapi aku sarankan kau pindah dari tempat ini agar aku bisa hidup dengan tenang.”
Pernyataan itu bagaikan pukulan mematikan bagi Daena.
“Joesonghammida. Besok pagi sekali aku akan pergi dari sini. Tapi tolong biarkan saya bermalam hanya untuk malam ini.”
“Ne, terserah kau saja. Yang pasti besok kau sudah tidak tinggal disini lagi.”
Daena mengangguk yakin. Wanita itu pun berlalu. Dia segera masuk kedalam apartemennya.
Dia lempar tasnya keatas ranjang dan membanting tubuhnya disana. Apartemen ini terbilang sangat biasa, biaya sewanya sangat murah. Daena sudah terlanjur nyaman ditempat ini, tapi dia tidak mau mengusik ketenangan orang lain.
“Aku harus bagaimana besok?”
~
Esok paginya…
Ting Tong..
CKLEK.
“Annyeong Hunie..”
Sapa seorang gadis ramah sambil tersenyum manis. Sehun mengucek matanya sejenak kemudian menyingkir sedikit.
“Masuklah.”
Gadis itu melangkah masuk. Dia membawa banyak bawaan. Mulai dari tas sekolah yang tersampir dipunggungnya, dua kantung besar belanjaan berisi bahan-bahan makanan dan satu koper besar yang dia tarik.
Sehun mengikuti langkahnya menuju dapur.
“Kenapa kau bawa koper?”
Daena menoleh setelah meletakkan tas belanjaan diatas meja makan.
“Hunie, apa kau tahu dimana apartemen murah?”
Namja itu mengerutkan keningnya. “Memang ada apa?”
Buru-buru gadis itu tersadar akan ucapannya. “Ah.. itu.. itu.. tidak apa. Aku hanya ingin pindah ketempat lain.”
Sehun menatapnya tajam. “Apa kau diusir dari apartemenmu?”
Daena kalah telak. Dia membuang pandangannya, berusaha menutupi kaca bening dimatanya.
“Aku hanya ingin pindah, Hunie. Tempat itu… tidak lagi cocok untukku.”
“Kalau memang benar, tatap mataku.”
Daena tetap memaku. Dia memusatkan pandangannya pada lantai rumah Sehun. Cairan liquid sudah menumpuk dipelupuk matanya. Dia tidak pernah sukses berbohong.
Sebuah tangan kekar menyentuh dan mengangkat dagunya. Dia menemukan manic mata Sehun yang menatapnya penuh kehangatan. Tak bisa dipungkiri, Daena sangat butuh sandaran untuk masalahnya yang satu ini.
“Aku mengenalmu, Dae. Kau tidak bisa berbohong dan sangat mudah ditebak. Aku tahu alasan yang sebenarnya bukan itu. Katakan. Aku ini berhak tahu karena aku sahabatmu.”
Tangis gadis itu semakin menjadi. Dia kembali menunduk untuk menyembunyikan tangis memalukan itu. Hanya dengan menangis, rasa sesak itu akan memudar perlahan. Tak berapa lama hawa hangat menyelimuti dirinya. Sehun mendekapnya lembut, mengusap punggungnya dan mengusak pelan rambutnya. Dua tahun hidup di kota yang tak pernah ia sangka sebelumnya, tidak mudah baginya untuk bisa berhubungan dekat dengan orang lain. Sehun, adalah namja pertama sekaligus teman yang dia kenal saat tiba di Seoul. Pertemuan pertama mereka bukan saat di sekolah, melainkan saat dia sedang menunggu bus di halte.
Flashback
Tangan gadis itu meremas ujung roknya. Dia sedikit takut saat dipandangi oleh para namja berseragam SMA yang sebentar lagi menjadi sekolahnya. Di halte itu, hanya ada dirinya dan segerombol namja tersebut.
“Agasshi, kau bukan asli Seoul?”
Daena melirik sekilas kemudian menggeleng.
“Ah.. pantas dia cantik sekali. Boleh kutahu namamu? Yah.. mungkin nantinya aku akan menjadikanmu pacar ke 100, hahaha.”
Perlahan Daena bergeser menjauhi mereka.
“Agasshi, kau akan membeku disana. Bergeserlah kemari, kami akan menghangatkanmu.”
Cengkraman tangan gadis itu semakin kuat pada roknya. Dia sedikit kerepotan karena membawa tas serta koper besar. Bahkan salju semakin menyulitkan pergerakan kakinya.
“Agasshi, sambil menunggu bus datang bagaimana kalau kita pergi minum? Aku kedinginan.”
Salah satu namja berjalan mendekat. Tatapan matanya memancarkan kilat ganas yang luar biasa. Hal itu membuat Daena semakin takut karena dia sudah terpojok.
“Haha, sudahlah agasshi, kita bersenang-senang du-”
“Chagiya, kenapa kau sendirian disini? Mianhae, kau menungguku lama.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s