My Beautiful Sister


my beautiful sister

Author : Park Daena
Title : My Beautiful Sister
Genre : Romance, Family, Friendship, little comedy
Rating : Teen
Length : One Shoot
Casting : Oh Sehun, Kim/Oh Daena (OC), Kai, Jongdae, Baekhyun, Chanyeol, Tao

Sehun melempar tasnya kesembarang arah hingga terdengar bunyi benturan ringan. Ia segera membanting tubuhnya diatas ranjang, inilah satu-satunya tempat yang bisa ia gunakan untuk mengendurkan rasa sakit dipunggungnya karena duduk terlalu lama. Ia merutuki ketua kelasnya karena telah membuatnya mengerjakan setumpuk soal kimia. Tapi, hal itu pantas ia dapatkan mengingat ia sudah hampir sebulan absen di mata pelajaran tersebut.

Matanya mencoba memejam. Sial, rutuknya. Bayang-bayang rumus kimia masih terngiang dipikirannya, padahal yang ia inginkan adalah cepat masuk ke alam mimpi agar impian menjadi vampirenya terpenuhi. Akhirnya ia membuka mata. Mungkin segelas coklat hangat bisa membuat rumus-rumus itu menghilang.
Ia pun segera bangkit. Setelah melepas balzer sekolahnya, barulah ia beringsut keluar. Berencana membuat satu gelas coklat hangat yang selalu menjadi minuman penyegar pikirannya.
Saat kaki jenjangnya bergerak menuruni tangga, kemunculan yeoja berambut panjang membuat langkahnya terhenti. Ia mendesah berat, baru menyadari jika saat ini anggota keluarganya bertambah.
“Oh.. ahjussi.” Ucap yeoja tersebut tatkala keping matanya menemukan sosok Oh Sehun.
Namja berkulit albino itu melanjutkan langkahnya lalu berhenti tepat didepan yeoja berumur 12 tahun yang sejak tadi menatapnya.
“Yaa, aku ini masih muda, jangan memanggilku ahjussi.” Ujarnya dingin seraya memperhatikan yeoja itu dari atas kebawah.
“Kau darimana? Kenapa pakaianmu kusam? Rambutmu.. aish! Bau sekali. Apa kau habis bermain di selokan?” lanjut Sehun sambil menutup hidungnya. Sungguh, keadaan yeoja itu benar-benar berantakan.
Yeoja itu menunduk melihat keadaan pakaiannya. “Ah.. tadi aku menolong seekor kucing. Saat aku ingin meraihnya tiba-tiba aku tergelincir, jadilah pakaian dan rambutku seperti ini.”
Sehun menurunkan tangannya, kembali memperhatikan yeoja yang kini menjadi adik angkatnya.
“Lebih baik sekarang kau mandi. Kau benar-benar mengenaskan.”
Namja itupun berlalu. Menyisakan yeoja berumur 12 tahun bernama asli Kim Daena yang sibuk mencium bau tubuhnya.
“Tidak bau. Ish, dasar ahjussi albino.” Decaknya sebelum beringsut memasuki kamar mandi.
Yeoja itu selesai membersihkan diri bersamaan dengan Sehun yang baru saja rampung meracik segelas coklat panas. Mereka saling berpandangan sejenak.
“Aku sudah tidak bau kan?” Tanya Daena sembari mendekati Sehun.
Bau shampoo dan lulur langsung menguap memasuki pernafasan Sehun. Namja itu segera melangkah mundur. Tatapannya sengit, tak suka dengan bau-bau tersebut.
“Kau ini masih kecil tapi bau sabunmu sangat menohok alveolusku. Uhuk. Aku bisa sesak nafas kalau begini terus.” Ia segera melenggang pergi. Yeoja itu tak terima. Matanya sudah mendelik horror.
“Yaa ahjussi! Tadi kau sendiri yang bilang rambutku bau! Tapi aku cium, rambutku tidak bau! Lalu barusan kau malah mengatai bau sabunku! Aish! Berhenti disana ahjussi!”
Sehun berbalik tiba-tiba, membuat Daena hampir saja membentur perut Sehun. Tatapan datar namun menusuk membuat bibir Daena terkatup rapat.
“Aku ini bukan ahjussimu! Aku ini oppamu, arraseo? Dan lagi! Karena disini kita tinggal berdua, kau harus menuruti semua ucapanku, mengerti!”
Setelah menghentakkan kakinya, Sehun segera melangkah menaiki tangga. Ia tak peduli erangan sebal dari bibir tipis Daena.
“Ah jinjja! Kenapa aku menurut sewaktu eomma menyuruhku tinggal dengannya?!!”
~
Rumah minimalis bertingkat dua itu, serasa mencekam karena kedua penghuninya tidak saling menyapa. Kalaupun mereka berpapasan, sudah pasti tatapan-tatapan sengit yang terjadi. Umur mereka yang terpaut 6 tahun, malah terlihat seumuran karena ego keduanya.
Sore itu pintu depan tiba-tiba diketuk tidak wajar oleh seseorang dari luar. Kegaduhan itu membuat kedua penghuni keluar dari peraduan masing-masing. Mereka segera berlari mendekati pintu sambil mengomel.
“Sabar woy!”
“Yaa! Kidaryeo!”
Saat tubuh mereka saling bertabrakan, keduanya malah bertatapan sengit.
“Yaa menyingkirlah!”
“Justru kau yang harus menyingkir, ahjussi!”
DOK DOK DOK DOK DOK
“DIAM!” Teriak mereka bersamaan. Mereka kembali bertatapan sengit juga saling berdebat.
“Yaa anak kecil! Kau menyingkir!” seru Sehun sarkatis.
“Apa-apaan kau mengusirku. Seharusnya kau, ahjussi!” balas Daena tak mau kalah.
“Yaa! Sudah kukatakan jangan panggil aku ahjussi!”
“Kau itu jelek, tua, albino, kau tidak pantas kupanggil oppa!”
“Apa kau bilang?!”
DOK DOK DOK
Daena menggendikkan bahunya acuh. Ia segera memutar kenop pintu.
“Oh?”
Sehun mengalihkan perhatiannya. Matanya pun membulat sempurna. Rupanya yang tadi mengetuk pintu rumahnya secara tidak etis adalah kelima sahabatnya. Sehun baru sadar, jika sore ini kelima temannya akan menginap ramai-ramai di rumahnya karena besok adalah hari libur.
“Yaa Hun, siapa yeoja ini?” Tanya namja berkulit tan, yaitu Kim Kai seraya menunjuk tepat didepan hidung Daena.
“Yaa! Singkirkan tanganmu ahjussi!” yeoja itu pun menepis kasar tangan Kai, hingga Kai mendelik horror.
“Aigoo, dia manis tapi galak juga.” Timpal namja berwajah imut dengan ekspresi dibuat takut, yaitu Byun Baekhyun.
“Yaa anak kecil! Kau pergi sana!” usir Sehun pada adik angkatnya.
“Yaa! Ini rumahku, ahjussi!” balas Daena dengan mata membara.
“Ahjussi? Hahahaha.” Kini gelak tawa dari namja setinggi tiang membuat Sehun memutar bola matanya malas. Namja itu adalah Park Chanyeol.
“Maksudku pergilah ke kamarmu. Apa kau ingin dilalap habis oleh para serigala berbulu domba ini karena pakaianmu?” kini suara baritone tersebut melembut. Matanya pun tidak sesengit sebelumnya. Karena ia baru sadar pakaian jenis apa yang dipakai yeoja SD itu. Dan dia juga baru menyadari jika kelima temannya itu adalah para yadongers sejati.
Daena memandang sekilas kelima namja berumur 18 tahun yang ternyata tidak berkedip melihatnya. Setelah menghela nafas berat dan memberi tatapan sinis pada Sehun, barulah ia beranjak memasuki kamarnya.
“Yaa! Apa yang kalian lihat?!” bentak Sehun yang segera membuyarkan pikiran-pikiran kotor kelima temannya. Mereka hanya cengengesan sambil mengusap tengkuk.
“Masuklah.” Akhirnya keenam remaja namja inipun berjalan masuk. Rumah yang awalnya diliputi keheningan kini berubah gaduh karena keenam namja itu sibuk melakukan banyak hal dilantai dua. Mereka memang seperti itu. Sebelum kedatangan Kim Daena… ah, Oh Daena maksudnya, mereka sering menginap di rumah tersebut saat hari libur tiba. Letak kamar Sehun di lantai dua, membuat kelima namja itu bisa dengan leluasa melakukan banyak hal. Karena lantai dua hanya didominasi oleh ruangan Sehun, bisa dibilang lantai dua adalah lantai pribadi Sehun. Oleh sebab, sebelum kedatangan Oh Daena, ia adalah anak tunggal dari keluarga Oh.
Sehun memilih bersandar pada kepala ranjang sambil menikmati coklat panasnya. Ia tidak terusik sama sekali dengan teriakan Kai dan Baekhyun saat bermain playstation. Ia lebih baik berada dalam kegaduhan seperti ini daripada keheningan bersama Daena.
Namja tinggi bermata panda, duduk disampingnya. Namja itu adalah Hwang Zi Tao. Ia sibuk merenggangkan tangannya sebelum bersandar pada kepala ranjang, memejamkan mata.
“Yaa Hun, yeoja itu tadi siapa? Kenapa aku baru melihatnya?” tanyanya dengan mata terpejam.
Sehun menyeruput coklatnya terlebih dulu. “Dia adik angkatku.”
“MWO?! Adik angkat?!” teriakan cetar membahana dari namja berwajah kotak membuat Sehun terlonjak, beruntung coklat panasnya tidak tumpah. Ia menatap tak suka pada Kim Jongdae.
“Kau membuatku terkena serangan jantung, troll!” ketus Kai yang tadi tak sengaja melempar stick playstation Sehun, sehingga membuatnya kalah bermain.
“Yes! Akhirnya aku menang! Kau kalah Kkam, kau kalah.” Seru Baekhyun seraya mengepalkan tinju diudara.
“Eh.. tapi benar ya? Yeoja tadi adik angkatmu?” kini Chanyeol angkat bicara.
Sehun mengangguk malas. “Mereka menyuruh dia tinggal bersamaku. Cih, menyusahkan saja.”
Kelima namja itu mengerti siapa yang disebut ‘mereka’ oleh Sehun. Sejak menginjak kelas 1 SMP, Sehun memang dibiarkan tinggal seorang diri di rumah ini. Kedua orang tuanya pergi ke Rusia untuk mengurus bisnis. Mereka tidak pernah berkunjung ke rumah ini, kecuali saat itu, saat membawa Daena ke rumah ini. Kurangnya kasih sayang orang tua, membuat Sehun tidak mau menyebut kedua orang tuanya sebagaimana mestinya. Sehun anak tunggal, namun sebenarnya kehadirannya kedunia bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Kedua orang tuanya menikah hanya agar hubungan antar perusahaan terjalin baik. Sehingga posisi Sehun hanyalah sebagai jembatan yang menghubungkan dua belah pihak perusahaan besar.
Kegaduhan dilantai atas membuat penghuni lantai bawah terganggu. Daena sedang berusaha belajar untuk ujian kelulusannya, namun karena suara tak beraturan yang berasal dari langit-langit kamarnya membuatnya terusik, sangat. Ia pun membanting pensil lalu bergegas menuju lantai dua.
“Kau sudah kalah Byun! Sekarang giliranku!”
“Hun aku lelah bermain! Ayo kita menari!”
“Keurae wolf! Naega wolf! Auuu!!”
“Yaaa!!! Diam semua!!”
Satu teriakan cempreng mampu membungkam suara-suara itu. Mata keenam namja tersebut terfokus tepat pada yeoja yang kini sudah berdiri diambang pintu.
“Ada ap-”
“Diam ahjussi! Apa kalian tidak tahu kalau aku terganggu, huh?! Suara kalian itu bahkan lebih keras dari suara jet!” Daena memotong ucapan Sehun, hingga teriakan-teriakan frustasi keluar dari bibir yeoja mungil itu.
“Oh, benarkah? Kurasa suara petir lebih keras dari jet.” Tutur Baekhyun innocent.
Sehun memutar bola matanya malas, ia pun bangkit dan berjalan mendekati Daena.
“Yaa bocah, kalau kau terganggu lebih baik pergi ke halaman belakang. Tidak perlu berkoar-koar seperti ini.”
Daena mendengus sebal lalu memukul perut Sehun. Namja itu mendesis kesakitan.
“Rasakan itu! Dasar ahjussi albino!”
Setelah menghentakkan kakinya, ia memutar dan hilang dibalik pintu.
“Yaa bocah! Aish! Mau sampai kapan kau memanggilku ahjussi, eoh?!”
~
Malam itu adalah malam yang sangat dibenci Daena. Bagaimana tidak, ia harus tinggal satu atap dengan 6 serigala berbulu domba, ah tidak! Hanya 5. Kini yang bisa diandalkan olehnya hanyalah Oh Sehun. Meski sebenarnya ia masih kesal akan kejadian tadi siang, namun jika tanpa Sehun, Daena sudah pasti akan mengunci dirinya di kamar.
Krucuk.
Yeoja itu mengelus perutnya seraya menggigit bibir bagian bawahnya. Ia baru sadar jika sejak siang tadi ia belum makan. Toh kalau makan, dia mau makan apa? Antara Daena maupun Sehun, mereka memang tidak ada yang bisa memasak. Lalu? Tentu saja memakai jasa delivery, yang mana Sehunlah yang memesan dan membayar. Kemudian sekarang? Entahlah Daena tidak tahu harus berbuat apa.
Ia pun bangkit dari bangku meja belajarnya. Seingatnya ia masih memiliki beberapa lembar won di almarinya.
Kriet.
Beruntung, masih ada 2 lembar uang 5 ribu won. Dengan senyum mengembang, ia segera membawa uang itu pergi membeli sesuatu. Namun sebelumnya ia menyabet coat merah maroon karena suasana malam hari sangatlah dingin.
CKLEK.
Tap Tap.
“Yaa bocah! Malam-malam begini kau mau kemana, huh?” suara baritone menginterupsi langkahnya. Ia pun memutar kemudian memasang tampang angkuh.
“Apa urusanmu? Memangnya kau peduli?”
Sehun berjalan mendekat. Tatapan matanya memang datar, namun ada sebersit rasa tak suka.
“Peduliku atau tidak itu juga bukan urusanmu. Aku hanya bertanya, dan kau harus menjawab.”
Daena memutar bola matanya malas. “Baiklah baiklah. Aku ingin pergi ke kedai ramen, wae? Kau mau ikut?”
Sehun membulatkan matanya. “Andwae! Kau tidak boleh pergi kemanapun!”
Yeoja itu mengerutkan keningnya. “Wae? Memangnya ada apa?”
“Tidak perlu banyak tanya, cepat kembali ke kamarmu.” Namja itu segera menarik Daena menjauhi ruang tamu.
“Yaa ahjussi! Lepaskan! Appo!”
Sehun pun melepaskannya kemudian memutar tubuhnya. Kedua mata musangnya menatap tajam sosok yeoja yang masih mendesis kesakitan.
“Yaa! Kau ini anak kecil, yeoja pula! Apa kau mau diculik oleh para pedofil eoh?!”
Daena mengangkat kepalanya. “Memang apa urusanmu? Bukannya tadi kau bilang kau hanya bertanya? Kenapa kau malah membentakku?”
Sehun mendengus sebal. Perlahan ia rubah ekspresi wajahnya.
“Daena sayang, jebal, dengarkan aku untuk sekali ini. Aku berteriak padamu seperti tadi karena aku menghawatirkanmu. Tidak ada sejarah yang mengatakan kalau yeoja dibawah umur bisa seenaknya keluar malam sendirian. Dan, yang ada itu para yeoja dibawah umur sering terkena kekerasan seksual. Sekarang, karena aku peduli padamu dan ekhem! Menyayangimu tentunya, maka dari itu aku melarangmu untuk pergi. Ingat! Kau harus menuruti ucapanku.”
Yeoja itu terdiam. Matanya mengerjap imut mendengar ucapan halus dari kakak angkatnya.
“Baiklah. Aku tahu kau lapar. Lebih baik tunggu di ruang televise, aku akan memesankan makanan untukmu.” Sehun pun merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.
“Ahjussi tidak makan?” akhirnya yeoja itu bersuara juga.
Sehun melirik adiknya sekilas. “Jangan panggil aku ahjussi. Apa susahnya sih memanggil oppa.”
Daena mendengus sebal. Tanpa berkata-kata lagi ia segera melesat ke ruang televise sesuai perintah. Sementara Sehun memutar bola matanya malas melihat tingkah dari anggota keluarga barunya.
“Aku sudah makan, BABY. Jangan khawatir.” Ucapnya sedikit berteriak.
Setelah selesai menelpon pihak restoran, ia pun segera beranjak ke kamarnya, berniat membangunkan kawan-kawannya.
~
“Yaa! Makan pelan-pelan.”
Daena memalingkan wajahnya. Ia segera mengusap bercak sambal dipipinya. Kemudian kembali menikmati ayam krispi tersebut.
Saat ini, bukan hanya Daena yang menikmati ayam tersebut, melainkan juga kelima teman Sehun. Suasana benar-benar ramai karena para namja itu suka sekali berebut.
“Yaa Jong! Itu milikku!” teriakan bak rocker keluar dari mulut penuh Baekhyun. Jari telunjuknya yang lentik menunjuk satu paha ayam yang baru saja disabet Jongdae.
“Siapa cepat, dia dapat, pabo!” balas Jongdae tak mau kalah.
“Kai! Aish! Kau ini jorok sekali!” kali ini suara bass Chanyeol membahana di ruang televise. Matanya menatap jijik cara makan Kai yang kelewat agresif.
“Tutup mulutmu, yoda! Ayam gratis sayang kalau tidak cepat dihabiskan.” Bela Kai seraya mencabik-cabik leher ayam.
Hanya Daena, Sehun dan Tao lah yang waras disini. Mereka makan dengan tenang, ex Sehun.
“Oh ya, Dae, umurmu berapa?” akhirnya Tao buka mulut setelah perutnya merasa kenyang.
Merasa dirinya dipanggil, Daena pun mendongak. Tao dan Daena memang duduk berhadapan, sedangkan Sehun ada disamping Tao.
“Kau bertanya padaku?”
“Tentu saja, memang siapa lagi? Jongdae? Untuk apa aku bertanya padanya.” Ketus Tao seraya meneguk colanya.
Daena pun menelan daging dimulutnya dahulu. “Usiaku 12 tahun.”
“MWO?!”
Para namja –ex Sehun- menjerit bersamaan. Bahkan saking terkejutnya sampai-sampai daging didalam mulut Kai bermuncratan mengenai Sehun.
“Yaa! Aish! Kau jorok sekali!” bentak Sehun tak terima. Ia segera menarik sehelai tisu dari kotak tisu diatas meja, kemudian ia gunakan untuk membersihkan liur dan daging tak berbentuk yang berceceran dipakaiannya.
“Usiamu 12 tahun? Kupikir kau sudah 15 tahun.” Seakan tak peduli, Kai kembali menyantap ayamnya setelah mengucapkan pemikirannya.
“Pantas kau memanggil albino ini ahjussi.” Sahut Chanyeol yang mulai meneguk colanya.
Daena hanya berdehem tak jelas. Ia terlalu malas meladeni ucapan-ucapan para serigala itu.
“Sudah sudah! Yaa bocah, kalau kau sudah selesai cepat masuk kamar lalu tidur.” Sehun pun bangkit kemudian membereskan dua kotak ayam yang sudah ludes isinya.
“Bagaimana aku bisa tidur kalau kalian terus membuat kegaduhan. Aku juga tidak bisa konsentrasi belajar karena suara-suara aneh kalian.” Balas Daena seraya bangkit kemudian melesat ke dapur untuk mencuci tangan dan kaki.
Sehun menggeleng pelan. Ia tak habis pikir mendapat seorang adik yang sangat menjengkelkan.
“Adikmu itu benar-benar.” Ucap Baekhyun kemudian menguap lebar.
“Kalian juga jangan membuat onar disini. Kalau dia tidak ada, itu tidak masalah. Tapi kalau ada dia, jangan harap kalian bisa datang kesini lagi.” Timpal Sehun seraya berjalan mendekati tempat sampah untuk membuang 2 kotak tersebut.
Yeoja itu keluar dari kamar mandi. Kaki panjang nan ramping yang terekspos karena hanya memakai celana pendek itu, membuat Kai berhenti mengunyah. Dari kelima namja itu, memang Kai lah yang terparah. Bahkan melihat bayi yang tak berpakaian saja, matanya tidak akan berkedip sedetikpun.
“Yaa! Kim Kai!”
Akhirnya bentakkan Sehun berhasil mengalihkan dunia kotor Kai. Ia menyeringai ‘sok’ polos kemudian melanjutkan kunyahannya yang tertunda.
Malam itu, akhirnya kegaduhan tidak terjadi, karena para serigala berbulu domba telah terlelap dalam dunia mimpi mereka masing-masing. Berterima kasihlah pada Sehun yang telah memberikan 2 kotak ayam krispi gratis yang sanggup membuat kelimanya kekenyangan. Sayangnya, Sehun tidak memejamkan matanya malam ini. Ia dirundung kegelisahan. Seperti akan ada sesuatu yang terjadi pada Daena.
“Apa dia sudah mengunci pintu? Jendela?”
Karena otaknya benar-benar sesak memikirkan kemungkinan terburuk, Sehun segera beringsut turun memeriksa celah-celah disemua sudut kamar sang adik.
CKLEK CKLEK
Untuk sesaat Sehun merasa lega. Pintu telah dikunci rapat. Kini, ia masih harus memeriksa dua jendela kamar sang adik dari luar.
“Syukurlah.” Gumamnya tatkala semua jendela juga terkunci rapat.
Namun rasa gelisah masih merundunginya. Saat melangkah menaiki tangga, berulang kali kepalanya menoleh kebawah melihat pintu yang memang tertutup rapat sejak tadi. Namun, ia coba untuk menepis semua pikiran buruk itu.
~
Matahari masih memancarkan cahaya bermanfaat. Saat ini, waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Sepagi ini, para murid SD sudah stay di kelas masing-masing. Suasana sekolah sepi, karena hanya murid kelas 6 saja yang masuk oleh sebab mereka mengikuti ujian kelulusan hari pertama.
Daena mengerjakan soalnya dengan tenang. Ia melewati soal-soal yang menurutnya sulit dan memilih mengerjakan soal yang menurutnya mudah. 30 menit kemudian, bel berbunyi menandakan ujian telah berakhir. Para murid dengan tertib bergantian mengumpulkan kertas soal dan jawaban di meja guru, baru setelahnya mereka keluar dari ruang kelas.
“Kau sudah berjanji, Moon.”
“Tapi kalau hukumannya harus kesana, aku tidak mau.”
Suara gaduh dari dua orang siswa namja membuat Daena mengalihkan perhatian. Setelah menyabet tasnya, ia pun berjalan menghampiri dua namja tersebut.
“Ada apa ribut-ribut?” tanyanya setelah berdiri diantara dua namja yang tetap saja berdebat.
“Aku tidak mau Kyu! Tempat itu berbahaya.” Seru namja bernama Lee Ki Moon yang tetap bersikukuh dengan penolakannya.
“Tempat apa?” tanya Daena, namun tak direspon keduanya.
“Tapi kau sudah berjanji kemarin. Aku tahu kau bukan pecundang.” Kini namja bernama Tae Kyu Jin membalas ucapan Moon.
“Yaa! Kalian ini sedang membicarakan apa sih?!” yeoja itu berteriak juga saat ia merasa tidak diakui keberadaannya.
“Kau ini yeoja, tidak perlu ikut campur urusan namja.” Celetuk Kyu dengan tatapan meremehkan.
“Yaa! Kau kira yeoja tidak bisa mencampuri urusan namja? Jangan pernah meremehkan Oh Daena.”
Kyu memutar bola matanya malas. “Baiklah baiklah. Kalau begitu, apa kau berani menerima tantangan ini?”
Mendengar kata ‘tantangan’ nyali Daena ciut seketika. Namun karena ia sudah terlanjur masuk kandang macan, ada baiknya mencoba menjinakkan macan tersebut.
“Baiklah. Memang tantangan apa?”
Kyu menyeringai puas, sedangkan Moon mendelik tak suka.
“Yaa! Kau jangan asal bicara. Ini tidak semudah yang kau bayangkan.” Daena tak peduli.
“Oke. Kita main gunting batu kertas, siapa yang kalah dialah yang akan pergi ke tempat yang sudah kutentukan kemarin.”
Daena mengangguk mantap. Beda lagi dengan Moon yang gelisah. Pasalnya Kyu itu pandai dalam permainan gunting batu kertas.
“Gunting batu kertas!”
Kyu bersorak kegirangan saat tangannya mengeluarkan batu sedangkan Daena mengeluarkan gunting. Kekalahan itu jelas membuat wajah Daena pucat. Tanpa Kyu sadari, Moon membisikkan sesuatu ketelinga Daena.
“Bukankah sudah kubilang? Ini tidak semudah yang kau bayangkan.”
Akhirnya Daena hanya mampu menyesali nasibnya.
“Sekarang pergilah ke tempat itu.” Ucap Kyu setelah puas bersorak akan kemenangannya.
“Tempat apa?”
~
Baekhyun kehilangan jejak kawan-kawannya. Ia tertinggal karena tadi harus berhenti mengikat sepatu. Ia benar-benar merutuki nasibnya yang tersesat ditempat aneh ini.
“Ah jinjja! Jalan mereka cepat sekali.” Keluhnya seraya menendang sebuah batu kerikil hingga terlempar kedalam selokan.
Jalanan ditempat tersebut sangat sunyi. Bahkan kesannya terasa mencekam plus horror. Banyak bangunan memang disana, tapi mayoritas bangunan seperti gudang penyimpanan. Sesekali saat angin menggerakkan daun hingga membuat suara gesekkan, bulu kuduk Baekhyun langsung meremang.
Tiba-tiba sebuah siluet membuat matanya menajam. Ia melihat sosok yeoja berseragam SD tengah berusaha melepaskan diri dari cekalan seorang namja berotot penuh. Samar-samar suara jeritan memasuki gendang telinganya.
Tak peduli siapa yeoja itu, naluri Baekhyun tergerak untuk menolongnya. Tanpa berbekal senjata apapun, alias tangan kosong, ia segera melesat menuju sebuah gang yang berada 50 meter dari tempatnya berdiri tadi.
“Lepaskan! Hiks. Lepaskan aku!” jerit yeoja itu seraya memukul tangan namja yang tentu saja lebih kuat darinya.
“Tidak akan, manis. Kau datang kemari, itu berarti kau menyerahkan diri.” Balas namja itu seraya menyeringai mesum.
Tak berapa lama,
BUG!
Namja itu terguling sesaat setelah ditendang oleh seseorang. Otomatis cengkraman itu terlepas.
Seseorang yang baru saja datang itu, segera menarik tangan si yeoja agar melesat pergi dari sana.
“Yaa! Itu bagianku, bocah!” seru namja itu kemudian mengejar keduanya.
Aksi kejar kejaran akhirnya terjadi. Namja berseragam SMA, Baekhyun terus mengeratkan genggamannya. Ia memang tidak bisa berlari, dan untungnya hal itu tidak membuat yeoja dibelakangnya kewalahan.
“Belok sini.” Instruksinya seraya menarik yeoja itu untuk bersembunyi dibalik pohon beringin.
“Kemana mereka?” gumam namja berotot penuh yang tiba-tiba kehilangan jejak keduanya.
“Lebih baik kutelepon yang lain.” Lanjutnya seraya mencari ponsel didalam saku celananya.
“Yaa kalian! Cepat menyebar dan carilah seorang yeoja berseragam SD dan namja berseragam SMA. Namja itu sudah merampas bagianku. Cepat!” kemudian, namja itu melanjutkan larinya.
Untuk sesaat, Baekhyun dan yeoja SD itu mendesah lega. Kemudian mereka saling menatap.
“Dae-dae.. Daena?” seru Baekhyun tak percaya.
Yeoja yang berada disampingnya itu memang Daena, adik dari Oh Sehun.
“Kenapa kau bisa ada disini?” lanjutnya.
Daena hanya menggeleng kemudian menghapus jejak air mata dipipinya.
“Yang pasti kau baik-baik saja. Sekarang, kita harus segera pergi dari tempat ini dan mencari yang lain.” Ucap Baekhyun kemudian setelah ia mengerti bahwa Daena masih merasa shock.
“Apa Sehun ahjussi juga disini?” yeoja itu akhirnya buka mulut meski suaranya serak.
Baekhyun mengangguk, kemudian matanya bergerak-gerak melihat sekitar.
“Sepertinya aman untuk sementara, ayo ikuti aku.”
Seakan tak mau kejadian beberapa menit lalu terulang lagi, Daena akhirnya mengeratkan genggamannya pada tangan kekar Baekhyun. Mereka berjalan mengendap-endap meski terkesan tergesa. Baekhyun terus melihat sekitar, takut-takut segerombol namja berotot penuh yang lain datang mengepung mereka.
Dan benar saja hal itu terjadi. sekelompok namja berotot penuh tiba-tiba muncul 25 meter didepan mereka. Sesegera mungkin Baekhyun segera mengomando Daena untuk lari melewati jalur sebaliknya.
“Argh! Kenapa mereka banyak sekali?!” gumam Baekhyun kesal. Tak dielakkan tenaganya semakin menipis. Begitupula dengan Daena. Sementara para namja itu hanya tinggal beberapa langkah lagi mendekati mereka.
Dan..
HUP!
“Kyaa! Oppa!!” salah seorang namja berhasil menarik Daena kemudian mendekapnya. Otomatis Baekhyun berhenti ditempat dan sesaat kemudian ia sudah dikepung belasan namja.
“SHIT! Kalian beraninya berkelompok! Satu lawan satu jika kalian memang jantan!”
Teriakan itu percuma. Belasan namja tersebut hanya tertawa renyah kemudian menghabisi Baekhyun dengan tijuan dan pukulan kayu. Meski Baekhyun telah menguasai hapkido tingkat sulit, tapi tetap saja ia kalah melawan 15 namja itu.
Lain halnya dengan nasib Daena. Lehernya yang terus didekap membuatnya sesak nafas. Bahkan untuk menepis tangan kotor yang tengah membuka kancing seragamnya, ia tidak mampu.
Kemudian tak berapa lama, gerakan tangan namja itu berhenti saat seseorang mengayunkan sebalok besi ketengkuknya. Hitungan detik namja itu jatuh pingsan, begitupula Daena yang sudah kehabisan nafas. namun yeoja itu ditangkap dengan baik oleh seorang namja berseragam SMA yang lain.
Sebelum membawanya ketempat yang aman, namja itu melepas blazer sekolahnya untuk menutupi badan Daena yang sedikit terekspos.
“Cepat bawa dia pergi. Aku dan yang lain akan mengurus bajingan pengecut itu.” Ucap seorang dari 4 kawan namja tersebut.
Namja berkulit albino, Sehun, segera mengangkat adiknya ala bridal style menuju sebuah kursi dibawah pohon maple. Ia pun duduk disana dengan Daena duduk diatas pangkuannya.
Blazer yang tadi ia pasang asal-asalan ditubuh Daena, kini ia membenarkannya hingga blazer itu membalut tubuh bagian atas adiknya sepenuhnya. Gurat cemas terlihat sangat jelas diwajahnya. Ia menggumamkan sesuatu ditelinga sang adik, kemudian mengecup keningnya. Hal itu terus ia lakukan hingga akhirnya Daena membuka mata.
“Hiks.”
“Sssst. Uljima.” Gumamnya seraya mengelus puncak kepala yeoja dipangkuannya.
“Hiks, oppa.”
Sekelebat perasaan senang muncul, karena Daena memanggilnya sebagaimana mestinya seorang adik perempuan pada kakak laki-lakinya.
“Ne, kau sudah baik-baik saja chagiya.”
Yeoja itu mengalungkan tangannya dileher Sehun, kemudian menenggelamkan wajahnya disana. Hanya suara sesegukan yang terdengar, yeoja itu sepertinya benar-benar shock dan takut akan kejadian tadi. Dan Sehun sebagai seorang kakak, ia hanya mengelus punggung adiknya agar menjadi lebih tenang.
Tak berapa lama kemudian, kelima namja muncul bersamaan. Dua orang namja yaitu Jongdae dan Kai tengah membopong seorang namja yang sudah babak belur yaitu Baekhyun. Sementara dua tiang listrik telihat meringis kesakitan karena lebam diwajah mereka.
“Lebih baik kita cepat pergi dari sini. Perasaanku mengatakan kalau masih ada banyak namja seperti itu ditempat ini.” Celetuk Kai yang langsung diamini yang lain. Mereka segera bergerak. Sehun tetap mengangkat adiknya dalam posisi seperti itu, ia menolak saat yang lain menawari bantuan. Beda lagi dengan Kai dan Jongdae yang menyuruh Chanyeol serta Tao agar menggantikan mereka.
10 menit berjalan, akhirnya mereka terbebas dari tempat ‘TERLARANG’ tersebut. Untuk melepas penat, mereka memilih beristirahat didepan sebuah kedai yang berada disamping supermarket.
“Aku akan membeli plester luka dan alcohol.” Ucap Kai seraya melesat memasuki supermarket. Tak sampai 10 menit, ia sudah kembali ketempat tersebut.
Ia membawa satu botol alcohol obat, satu plastic kapas dan satu pack plester luka. Ia berikan botol alcohol dan kapas tersebut pada Jongdae agar menggunakannya pada Baekhyun yang tak sadarkan diri. Sementara itu, ia bagi rata puluhan plester tersebut untuk 5 lainnya yang terluka, termasuk juga Sehun karena dia terlibat adu tonjok sebelum menemukan sosok Baekhyun Daena.
Setelah menerima 4 plester luka, Sehun tak langsung menggunakannya. Ia tetap memfokuskan pandangan pada Daena yang kini hanya terdiam diatas pangkuannya.
“Lain kali pergilah bersamaku, ya? Aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi.” Ucapnya lembut seraya mengecup pipi Daena yang dipenuhi jejak air mata.
Yeoja itu mengangguk dalam diam. Kemudian ia menarik kepalanya dari bahu Sehun, dan tangannya merebut 4 plester dari tangan kakaknya. Dengan tangan sedikit bergetar, ia tempelkan satu persatu plester tersebut keatas goresan diwajah Sehun. Kemudian, tangannya yang lain menarik leher kakaknya agar menunduk, tanpa diduga ia mencium seluruh luka dan memar diwajah albino Sehun.
Namja itu hanya tersenyum tipis. Hingga Daena kembali mengalungkan tangan dilehernya dan menyandarkan kepala dibahunya.
“Aku rasa aku melihat sisi Sehun yang lain.” Gumam Kai seraya mengalihkan perhatiannya pada Chanyeol.
“Eum, kau benar. Aku jadi sedikit iri padanya.” Timpal Chanyeol yang tengah sibuk memasang plester di luka pergelangan tangannya.
Mereka akhirnya sepakat untuk pulang ke rumah masing-masing. Tao, Chanyeol dan Kai membantu Sehun dan Jongdae untuk mendapat taxi, karena sangat tidak mungkin jika dua namja itu pulang jalan kaki dengan membopong seseorang. Sementara ketiganya, memilih untuk pulang menggunakan bus.
~
Sehun membaringkan tubuh Daena di kamar yeoja itu. Kemudian ia menarik selimut hingga menutupi tubuh sang adik sebatas leher.
“Tidurlah. Kau bisa mengganti pakaianmu besok.” Ujarnya sambil mengusap lembut poni Daena.
Tatapan yeoja itu kosong. Sehun mengerti karena kejadian itu benar-benar membuat gangguan yang serius pada mental semua yeoja. Meski begitu, Sehun masih belum mau menanyakan sebab adiknya bisa berada di ‘SARANG PEDOFIL’ itu.
“Aku akan pergi ke kamarku.” Ucap Sehun akhirnya seraya menegapkan tubuh. Ia berencana ingin pergi mandi kemudian tidur, namun tangannya ditahan oleh Daena.
“Gajima.” Gumam yeoja itu lirih dengan mata penuh harap.
Mereka berpandangan sejenak. Sesaat kemudian seulas senyum tercetak diwajah Sehun.
“Baiklah. Aku akan menemanimu sampai kau terlelap.”
Daena menggeleng lemah, membuat dahi Sehun berkerut.
“Tidurlah disini.” Pintanya.
“Daena chagi, kita punya kamar sendiri-sendiri. Lagipula para pedofil itu tidak tahu rumah kita.” Terang Sehun berusaha menjelaskan.
“Oppa..” mata yeoja itu berkaca-kaca seketika. Tak mau membuat adiknya menangis lagi, akhirnya Sehun menyerah.
“Baiklah. Hanya untuk hari ini, ya.”
Daena mengangguk seraya mempoutkan bibirnya. Setelah cengkraman itu terlepas, barulah Sehun berjalan memutar dan berbaring disisi ranjang yang lain.
“Sekarang tidurlah.” Namja itu sudah bersiap memejamkan matanya, namun urung ia lakukan ketika Daena tiba-tiba memeluknya dari samping.
“Oppa.. terimakasih sudah menolongku. Maafkan aku yang ceroboh sampai membuat wajahmu luka. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi dan akan selalu menuruti ucapanmu.”
Sehun tersenyum simpul. “Kau tidak berbuat salah chagiya, mungkin aku saja yang terlalu keras berbicara denganmu. Sekarang, lebih baik kau segera tidur dan lupakan kejadian tadi, anggaplah itu hanya sebuah mimpi buruk.”
Daena mengangguk. “Terima kasih atas segalanya, oppa. Aku menyayangimu.”
“Nado.”
Keduanya pun memasuki alam mimpi.
~
6 tahun kemudian..
“Oppa chagi!!” jeritan bahagia terdengar berbarengan dengan munculnya seorang yeoja dari dapur. Yeoja itu langsung menghambur memeluk seorang namja yang baru saja pulang kuliah. Gelagat yang tak biasa dari yeoja itu membuat namja tersebut mengerutkan kening bingung.
“Ada apa chagi? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”
Pelukan itu berakhir. Sebelum menjawab, ia memandang sekilas 5 orang namja seumuran kakaknya dari balik bahu sang kakak. Kini tinggi yeoja itu sudah mencapai dagu Sehun.
“Ani. Aku baik-baik saja. Aku hanya bahagia karena kau datang tepat waktu, oppa.”
Lipatan didahi Sehun semakin bertambah. “Jujur aku tidak mengerti maksudmu, chagi.”
“Nanti kau juga akan mengetahuinya.” Jawab Daena sambil menggandeng tangan Sehun. Ia mengomando keenam namja itu untuk mengikutinya menuju ruang televise. Mungkin, hanya Sehun yang tidak menyadari hal ini. Namja albino itu bahkan tidak tahu jika diam-diam Daena melemparkan sinyal-sinyal berupa kerlingan atau kedipan mata pada kelima namja lain.
“Akh! Perutku. Hun, aku pinjam kamar mandimu sebentar.” Kai segera berlarian ke arah dapur sambil berakting mengusap perutnya.
“Uhuk. Akh.. tenggorokanku. Daena-ya, apa kau punya jus strawberry? Sepertinya aku ingin itu.” Ucap Byun Baekhyun sambil mengelus lehernya.
“Aku masih akan membuatnya. Kalau begitu ikut aku.”
Daena dan Baekhyun pun berjalan menuju dapur. Kini, di ruang tersebut hanya ada Sehun, Chanyeol, Tao dan Jongdae. Sehun merasa sesuatu yang aneh pada diri Kai, Baekhyun dan Daena.
“Apa Kai kena diare? Dan sejak kapan-” ucapannya terputus saat ponsel didalam saku celananya bergetar. Baru saja akan memasukkan tangannya kedalam saku, tiba-tiba matanya sudah ditutup oleh kain bandana oleh Chanyeol.
“Yaa! Apa-apaan ini?!” teriaknya tak terima berusaha melepaskan ikatan bandana tersebut.
“Tenanglah Hun, aku tidak akan melakukan apapun padamu.” Ujar Chanyeol sedikit malas.
“Atau jangan-jangan kalian berusaha menculik adikku?!”
PUK!
“Yaa!”
“Sudah kubilang aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya melaksanakan tugas.” Terang Chanyeol sambil menunggu Tao dan Jongdae menyelesaikan tugas mereka.
“Tugas? Tugas apa?”
“Tidak perlu banyak tanya, nanti kau juga akan tahu sendiri.”
Sehun mendengus sebal, kemudian melipat kedua tangannya diatas perut. Lama ia harus menunggu. Hingga akhirnya ia sudah tak sabaran lagi.
“Yaa! Ppalli! Kepalaku pusing!” erangnya frustasi.

-eonjengan i nunmuri meomchugil
(Suatu hari nanti aku berharap air mata ini akan berhenti mengalir)
eonjengan i eodumi geochigo
(Suatu hari nanti setelah kegelapan ini menghilang)
ttaseuhan haessari i nunmureul mallyeojugil
(Aku berharap hangatnya cahaya matahari mengeringkan air mata ini)
jichin nae moseubi jogeumssik jigyeowojineun geol neukkimyeon
(Ketika aku merasa lelah mencari diriku yang lelah)
da beorigo sipjyo himdeulge jikyeoodeon kkumeul
(Aku ingin berikan semua impianku yang aku simpan baik-baik)
gajin geotbodaneun bujokhan geosi neomunado manheun ge
(Setiap kali aku merasa kurang dalam banyak hal yang aku miliki)
neukkyeojil ttaemada darie himi pullyeoseo nan jujeoantjyo
(Aku kehilangan kekuatan kakiku dan terjatuh)
eonjengan i nunmuri meomchugil
(Suatu hari nanti aku berharap air mata ini akan berhenti mengalir)
eonjengan i eodumi geochigo
(Suatu hari nanti setelah kegelapan ini menghilang)
ttaseuhan haessari i nunmureul mallyeojugil
(Aku berharap hangatnya cahaya matahari mengeringkan air mata ini)-

Alunan suara khas wanita yang semanis madu itu, berakhir saat bandana yang menutupi mata Sehun terlepas. Kini matanya dibuat membulat saat melihat suasana ruang televise yang gelap namun sedikit terang karena disinari lilin. Ia tak menemukan siapapun disana.
Ketika kepalanya menoleh kebelakang, ia menemukan sebuah panah yang menunjuk kelantai dua. Ia pun bangkit lalu melangkahkan kakinya perlahan menekan anakan tangga yang tiap sisinya disinari oleh cahaya lilin.

naega joha neomu joha nae modeungeol jugo shippeo
(Aku suka kamu, sangat suka..aku ingin memberikan semua hatiku padamu)
Neoegemaneun naemaeum nan kkumigo shipji anhna
(Kamulah satu-satunya yang ada di dalamhatiku, aku tidak ingin menghiasnya dengan yang lain)
eonjekkaji (eonjekkaji)
(selamanya (selamanya))
Neowa hamkke (neowa hamkke isseul kkeoya~ yeah yeah yeah)
(Kamu dan aku bersama (kita akan bersama selamanya~ yeah yeah yeah))
Lulu lala sincheoneul nubineun nae maeumeun manyang iya ero
(Lulu lala…kamu yang berjalan di sepanjang jalan menuju Sincheon, ingatan itu berselimut di pikiranku)
Yeoboseyo naye cheonsa eoddeohke nae maeumeul humcyeotnayo
(Hallo malaikatku, bagaimana kamu telah mencuri hatiku?)
Gwaenchanhayo naye cheonsa kajyeogan nae maeumeul goi ganjig haejwoyo
(Tidak apa-apa malaikatku, kamu membawa hatiku dan menginginkan aku.)

Keping matanya bertemu dengan tatapan teduh seorang yeoja yang baru selesai memetik gitar. Mereka saling bertatapan dengan jarak yang lumayan jauh. Barisan lilin yang membentuk angka 24, memisahkan mereka. Yeoja dengan dress putih gading selutut itu meletakkan gitar tersebut disamping tubuhnya, kemudian mengambil sebuah kue tart diatas nakas. Ia bangkit, lalu berjalan perlahan mendekati Sehun.
Yeoja itu berhenti satu langkah didepan Sehun.
“Saengil chukkaeyo.”
Seakan baru terbangun dari tidur panjang, Sehun terlonjak saat mendengar ucapan Daena. Ia mengusap tengkuknya sejenak kemudian tersenyum tipis.
“Kau yang merencanakan ini semua?”
Yeoja itu mengangguk. “Disetiap ulang tahunmu, aku akan membuat kejutan yang tak pernah kau duga.”
Sehun tersenyum lalu mengusap rambut adiknya.
“Buatlah permohonan, kemudian tiup lilinnya.”
Sehun menurut. Ia pun menempelkan kedua telapak tangannya didepan dada, memejamkan mata sejenak untuk memanjatkan harapan. Kemudian ia meniup lilin berbentuk angka 24 diatas kue tart tersebut.
Daena tersenyum senang. “Sekali lagi selamat ulang tahun, oppa chagi.”
Sehun merampas kue tart itu, lalu meletakkannya diatas meja. Baru setelahnya ia tarik yeoja cantik tersebut dalam pelukannya. Kini Daena kecilnya sudah menjadi Daena remaja yang cantik.
“Terima kasih, chagi.”
Yeoja itu tersenyum. Berkat highheel berukuran 4 sentinya, ia bisa meletakkan dagunya diatas pundak Sehun.
“Aku juga, oppa.”
“Aku ingin bertanya satu hal padamu.”
“Apa?”
“Dari mana kau mendapatkan lagu itu? Sepertinya aku belum pernah mendengarnya dimanapun.”
Daena tersenyum. “Mian oppa, aku tidak sengaja melihat buku catatan harianmu. Aku rasa, kata-kata itu sangat bagus untuk dirangkai menjadi sebuah lagu. Berkat bantuan Chanyeol oppa, Baekhyun oppa dan Jongdae oppa, akhirnya aku berhasil membuatnya menjadi sebuah lagu. Lagu pertama tadi, aku tahu kau menulisnya saat kau merasa tak dianggap oleh eomma appa. Lagu kedua, aku rasa kau sedang jatuh cinta saat itu. Jadi kupikir, dua moment itu ada baiknya aku nyanyikan disaat seperti ini.”
Sehun mendorong pelan tubuh Daena. “Kau tidak bertanya pada siapa aku jatuh cinta?”
“Ne, aku ingin menanyakan itu.”
Sehun tersenyum simpul. “Kau mengetahui orangnya. Kau mengenalnya. Hanya saja kau tidak sadar selama ini.”
Daena mengerutkan keningnya. “Setahuku oppa tidak pernah berteman dengan yeoja.”
“Ne itu benar. Karena orangnya sudah ada dihadapanku.”
Yeoja itu membulatkan matanya. “Jadi.. itu.. aku?”
Sehun menjawabnya dengan mengecup kilat bibir Daena. “Apa jawabanku memuaskan?”
Yeoja itu menunduk, menyembunyikan pipinya yang merona hebat. “Oppa, kau membuatku malu.”
Sehun terkikik ringan kemudian memeluk kembali gadis tersebut. “Nae cheonsa, kau benar-benar cantik malam ini. Terima kasih untuk kejutan ulang tahun dan terima kasih juga telah menemaniku selama ini. Aku menyayangimu sebagai adik, dan aku mencintaimu sebagai yeoja.”
Daena memilih untuk tidak menjawab. Cukup dengan mengeratkan pelukannya agar Sehun tahu seberapa cepat detak jantungnya.
Malam itu, 12 April adalah saat-saat yang tak akan terlupakan dalam hidup Sehun, maupun Daena. Status mereka tidak hanya kakak adik, namun lebih dari itu. Tak peduli mereka bersaudara, asalkan selama status mereka hanyalah adik/kakak angkat, memiliki perasaan lebih bukanlah suatu kesalahan.
END

Iklan

3 comments

  1. ceritanya seru kak !! ini dilanjutin gk kak ? masih penasaran bagaimana cerita selanjutnya !!! kalau boleh dilanjut kak !! ceritanya menarik 😀

    Suka

  2. Ouwhh, ini apa? Sweet banget. Selalu gitu. Sehun gitu loh. Hehe, tapi tanpa author nya yang nulis, sehun juga gak bakalan semanis itu. Kan yang nulis autornya.
    Semangat yah! Lanjutin nulisnya. Aku menunggu. Yah, meskipun aku masih termasuk reader baru..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s