Sweet Birthday


sweet birthday

Title : Sweet Birthday
Author : Park Dae Na
Genre : Romance
Rating : Teen
Length : One shoot
Casting : Hwang Zi Tao EXO M & you

BUG! BRUAK! DUG!
“Lari!!” teriak seorang diantara mereka yang secara langsung mengomando kawan-kawannya untuk pergi dari tempatku sekarang berada. Ish! Dasar pengecut!

Aku teringat pada seseorang yang menolongku tadi. Saat aku memutar badan, kulihat seorang namja bertubuh tinggi tengah tergeletak tak berdaya didekat sebuah rumah kayu yang reot. Aku segera menghampirinya.
“Ahjussi.. gwaenchanayo?” aku berlutut dihadapannya berusaha mensejajarkan tubuhnya. Wajahnya penuh lebam dan ujung bibirnya mengeluarkan darah. Ia berusaha untuk mengangkat kepala melihatku.
“Ne. gwaenchana.”
Aku mendesah lega. Setidaknya dia tidak pingsan ditempat ini.
“Baiklah, aku akan membawamu-”
Oh! Dugaanku meleset! Dia baru saja pingsan.
~
Aku menekan pelan kain basah ditanganku pada bagian pipinya yang lebam. Perlu diingat, aku tidak pernah bisa bergerak lembut. Meskipun menurutku aku menekan wajahnya dengan pelan, nyatanya namja itu langsung terbangun dan mendesis kesakitan.
“Ah! Mianhae!!” reflek aku menjauhkan tanganku dari wajahnya. Bulu kudukku menegang saat melihat tatapan matanya yang terlihat seperti tengah mengatakan, ‘aku akan membunuhmu’. Perlahan aku duduk menjauh.
“Ne.. gwaenchana.” Ucapnya sembari mengalihkan pandangan. Ia meraba pipinya dan sesekali mendesis.
“Ahjussi.. ingin minum sesuatu?” tawarku dengan suara sedikit bergetar.
Ia kembali mengalihkan pandangan padaku. “Ahjussi?”
Kedua alisku saling bertaut. Dia tidak seperti namja seumuranku, rambut putihnya yang pendek itu, terlihat seperti namja berumur sekitar 25 keatas.
“Memangnya, usiamu berapa?” tanyaku takut-takut.
Ia menghela nafas sejenak. “21 tahun.”
DEG! Oh tidak! Aku berbuat kesalahan dengan menuakan umurnya. Ah!! Apakah aku akan mati sekarang juga?
“Mi..an..hae..yo..” ucapku sambil tertunduk.
“Ini dimana?”
Akupun mengangkat kepala. Kulihat kepalanya bergerak-gerak melihat seluruh ruangan ini.
“Tadi kau pingsan, jadi.. aku membawamu kemari. Mianhae, rumahku sangat kecil dan-”
“Ini rumahmu?”
Aku mengangguk cepat.
Ia menatapku intens. Matanya yang seperti panda itu, terlihat tengah mengintrogasiku. Tatapannya sangat tajam dan menakutkan. Oh! Apa iya dia masih tersinggung dengan caraku memanggilnya ahjussi? Semoga saja aku baik-baik saja didetik selanjutnya.
“Kau baik-baik saja, kan?” tanyanya kemudian yang berhasil membuatku terkejut.
“Ngh? Bisa kau ulangi sekali lagi pertanyaanmu?”
Ia mengalihkan pandangan dengan cepat. “Tidak perlu.”
Baiklah, aku memaklumi jika ia masih tersinggung dengan panggilan ‘ahjussi’.
Aku merasakan tempat tidurku sedikit bergoyang, dan begitu aku mengangkat kepala, namja itu sudah duduk dihadapanku. Dia benar-benar tinggi, sampai-sampai aku harus mendongak dengan sudut 45 derajat.
“Aku lapar.” Celetuknya lirih. Aku bisa mendengar apa yang ia katakan. Dengan reflek aku berdiri.
“Aku akan masak sesuatu. Kau, tetap disini saja.” Akupun memutar badan dan melangkah mendekati pintu.
“Chakkaman! Siapa namamu?”
Aku berhenti saat tanganku hampir meraih gagang pintu. “Namaku (namkormu).”
“Oh. Ya sudah.”
Aku menghela nafas. Entah kenapa jantungku tadi berdegub sangat cepat ketika dia menanyakan siapa namaku. Jangan bilang aku sedang jatuh cinta padanya. Ahjussi seperti dia mana bisa mengambil hatiku. Akh! Aku lupa! Dia masih 21 tahun! Ah dasar!
~
Perlahan aku meletakkan semangkuk ramen yang panas itu keatas nakas disamping tempat tidurku. Saat aku sampai disini, aku melihat namja itu tengah mengompres wajahnya sendiri. Dan cara mengompresnya itu membuatku harus menahan tawa. Bagaimana tidak? Dia mengompres asal-asalan, bagian wajahnya yang tidak lebam pun dia usap dengan kain basah, alhasil wajahnya basah.
Aku segera beringsut mengambil sebuah handuk kecil dan kuberikan padanya.
“Wajahmu basah, pakailah itu.”
Ia menatapku dengan tatapan yang sedikit melembut dari sebelumnya. Ekspresi malu-malunya membuatku semakin susah menahan tawa. Akhirnya aku hanya bisa tersenyum.
Ia mengusap wajahnya dengan pelan, sedangkan aku duduk sedikit jauh didepannya. Kuperhatikan wajahnya yang … tampan. Aku belum bisa melupakan bagaimana dia dengan beraninya melawan para gangster pengecut itu. Dia seperti pahlawan, tapi pahlawan kesiangan, hehe.
Setelah wajahnya sudah tidak basah lagi, ia meletakkan kain itu diatas nakas dan menggantinya dengan mengambil mangkuk ramen. Seperti orang yang tidak pernah makan selama seminggu, ia melahap ramen itu dengan sangat rakus dan habis dalam waktu kurang dari 2 menit.
Ia meletakkan kembali mangkuk itu diatas nakas, lalu ia menatapku.
“Ramen buatanmu enak.”
Aku hanya mengangguk.
“Oh ya, kau punya uang 10 ribu won tidak?”
Aku mengerutkan kening. “Untuk apa?”
“Aku sedang tidak bawa uang untuk naik taxi. Boleh aku pinjam uangmu?”
~
Dasar, umpatku dalam hati.
Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa dia menyuruhku untuk memberhentikan taxi sedangkan ia sibuk membuat penyamaran. Aku heran, sejak keluar dari rumahku, dia dengan seenak jidatnya mengambil topi dan syalku untuk menutupi wajahnya. Menurutku, lagipula tidak akan ada orang yang beranggapan bahwa ia adalah seorang korban pertengkaran dari gangster pengecut tersebut.
“Taxi!” teriakku sambil melambai pada sebuah kendaraan umum yang tengah berjalan menghampiriku. Bukannya berhenti, taxi itu malah mempercepat kecepatannya yang membuat genangan air ditengah jalan berhamburan menyiram wajahku. SHIT! Dasar taxi kurang ajar!
“Yak! Yak! Berhenti tidak!!” teriakku pada taxi yang sudah hampir menghilang disudut jalan. Percuma saja, toh taxi itu sudah menghilang dijalan yang lengang ini. Ah.. aku lelah.
Akupun berjalan menghampiri namja itu berada, tepatnya aku duduk disampingnya.
“Tidak ada taxi yang berhenti.” Ujarku putus asa.
Ia menoleh padaku. “Kalau begitu antar aku pulang.”
“Yak! Tidak mungkin aku mengantarmu ke Gangnam! Jaraknya jauh dari sini!”
Ia menurunkan kacamata hitamnya. “Kalau aku tidak segera sampai disana, manager akan mencariku.”
Aku mengangkat sebelah alisku. “Manager?”
Belum saja ia menjawab, suara klakson mobil mengagetkan kami. Saat aku memutar kepalaku kedepan, aku melihat taxi yang tadi menyemburku dengan genangan air, sudah berhenti didepan kami.
“Baiklah. Aku pulang dulu. Annyeong.”
Namja itu beranjak begitu saja, memasuki taxi itu dan menghilang tanpa memberiku sapaan selamat tinggal. Dasar.. tapi syukurlah, setidaknya aku tidak perlu lagi mengurusnya. Hanya saja..
“Uangku! Syalku! Topiku! Kyaaa!!!”
~
Bodohnya aku! Kenapa aku tidak menanyakan identitasnya? Setidaknya namanya. Ah!! Lalu bagaimana? Aku hanya tau dia pergi ke Gangnam setelah menjelajahi rumahku selama setengah hari. Jadi sekarang, aku hanya berbekal nekat datang ke tempat elit ini.
“Dia bilang, jika dia tidak segera sampai Gangnam, maka managernya akan mencarinya. Manager? Apa dia seorang model? Tapi.. kenapa aku tidak pernah melihatnya ya?? Atau aku saja yang memang tidak pernah menonton televise hiburan??”
Aku sukses menjadi perhatian orang-orang yang berlalu lalang dijalan ini. Mereka menganggap aku gila karena bermonolog sendiri. Tapi apa peduliku, yang pasti aku harus segera menemukan namja bermata panda itu dan mengambil semua yang dia ambil dariku.
Langkahku terhenti didepan sebuah gedung pencakar langit. Didepan gedung itu bertuliskan, SM Entertainment.
“Oh.. jadi ini entertainment besar yang sangat diidamkan kawan-kawanku. Hm.. lumayan bagus juga.”
Aku melihat banyak yeoja yang berdiri berdesakkan didepan gedung ini. Mereka membawa benda-benda seperti lightstick, poster dan entah apa saja itu yang semuanya bertuliskan sebuah lambang berbentuk hexagon. Lambang itu rupanya adalah sebuah tulisan berwarna hitam yang unik,
“EXO?” gumamku.
Jadi.. EXO itu artis dari SM? Pantas saja kawan-kawanku sangat ingin masuk SM karena ingin bertemu EXO tersebut.
Eh? Kenapa aku jadi sibuk memikirkan EXO? Aku jadi lupa apa tujuanku datang ke jalan ini.
Aku segera melangkahkan kakiku untuk hengkang dari tempat itu. Entah karena aku yang tidak melihat jalan atau karena orang dihadapanku ini sedang terburu-buru, kami saling menabrak dan membuat kami saling menjauhkan diri.
“Mianhae.” Sesalku sambil menunduk 90 derajat.
“Joesonghammida.” Balas orang itu.
Suaranya.. sangat kukenali. Aku tidak yakin apakah ini benar dia, aku mengangkat kepala dan menemukan seorang namja berambut hitam menantang langit dan berkacamata dihadapanku. Aku tidak mengenalnya, tapi sedetik kemudian..
“Kau?!” jeritku spontan.
Ia kelabakan sendiri dan langsung membungkam mulutku. Ia menarikku kesebuah gang sempit yang berada diantara dua bangunan. Ia melepaskan tangannya dariku dan ia berusaha mengatur nafasnya. Memangnya ada apa?
“Kau kenapa bisa ada disini?” tanyanya setelah nafasnya sudah teratur.
“Uangku, syalku dan topiku, kemarikan.” Jawabku to the point.
Ia menatapku intens, membuatku sedikit gemetaran.
“Kukira kau memberikannya padaku. Syal dan topimu ada di rumah, lain kali saja aku kembalikan.”
Plettak!
“AW! Yak!” teriaknya tidak terima sembari mengelus keningnya.
“Aku tidak memberimu, pabo! Kau sendiri yang seenaknya mengambil topi dan syalku. Dan uang itu, kembalikan! Aku sedang tidak bawa uang untuk ongkos pulang.”
Ia menatapku garang, tapi kali ini aku tidak gentar sama sekali.
“Kau memanggilku pabo? Kau tidak tau siapa aku?”
Aku menatapnya malas. “Ne! kau babo. Wae? Kau manusia sama sepertiku.”
Ia menghela nafas sambil tersenyum sinis. “Dasar kudet! Dengar ya! Tadi pagi kau memanggilku ahjussi, sekarang kau menyebutku pabo, kau ini.. aish! Aku Hwang Zi Tao, Tao! Kau tau siapa aku? Aku member EXO M. Artis perusahaan SM!”
Aku sukses terkejut mendengar pernyataannya. “Kau.. EXO?”
Ia menghela nafas kasar. “Ne! aku EXO, maknae EXO M!”
Aku memejamkan mata sejenak karena cairan-cairan dari mulutnya menyembur wajahku dengan mudahnya. Sungguh artis menjijikkan.
“Ne! arraseo! Aku tidak peduli apakah kau member EXO atau maknae EXO atau leader EXO atau apalah itu, yang penting beri aku uang 10 ribu won untuk ongkos pulang.”
Aku kembali menengadahkan tangan kananku padanya. Mungkin karena ia sudah lelah berhadapan denganku, ia akhirnya membuka dompet dan memberiku uang 100 ribu won.
“Yak! Ini! Terlalu ba-”
“Itu untuk ongkos pulang dan untuk mengganti topi dan syalmu. Sudah, aku mau latihan.” Ia pun beranjak meninggalkanku yang masih terbengong-bengong dengan uang yang kupegang. Wow! Sekarang aku bingung harus kuapakan uang sebesar ini. Harga topi dan syal yang kemarin ia curi itu, tidak sampai 30 ribu won. Sepertinya, membeli sesuatu sebelum pulang, tidak buruk juga.
Aku mengalihkan pandangan kedepan. Melihat namja dengan badan proporsional itu menghilang perlahan dibalik persimpangan. Sepertinya aku mulai bergerak menjadi penggemarnya. Aku penggemar beruntung yang bisa bertemu langsung dengan idolanya.
~
Sebulan berlalu..
“Oh? Besok tanggal 2 Mei! Ah!! Aku lupa tidak membeli kado untuk Tao. Ah!! Bagaimana ini!! Ini sudah jam 11, mana ada toko pakaian yang masih buka disini.”
Aku hanya bisa menatap nanar kalender dihadapanku. Sekarang tanggal 1 Mei, besok adalah tanggal 2 Mei dimana Tao berulang tahun. Sekarang, aku adalah fans fanatiknya.
Aku melangkah mendekati jendela, menyibakkan tirai usang yang menutupi jendela kamarku untuk melihat suasana diluar sana. Aku tinggal disebuah perumahan yang sepi. Jam 9 malam, sudah tidak ada toko yang buka dan kendaraan umumpun tidak beroperasi disini. Sungguh nasib sial. Tentu saja aku tidak mungkin mencapai Gangnam hanya dengan berjalan kaki. Bisa-bisa aku dihadang oleh gangster pengecut itu.
Hujan pun tidak berpihak padaku, semakin malam hujannya semakin deras.
“Huft.. terlambat kalau aku memberinya kado besok. Tapi.. ah sudahlah.”
Dengan putus asa, aku melangkah mendekati tempat tidur dan mulai memasuki alam mimpi.
~
Esok paginya..
“Taxi!”
Akhirnya taxi itupun menepi kepinggir jalan dimana aku berdiri. Aku segera membuka pintu belakang dan duduk disana.
“Ke Gangnam, ahjussi.” Ucapku setelah aku sudah duduk dengan nyaman.
Supir taxi itu hanya mengangguk dan kendaraan umum inipun merangkak menyusuri jalan perumahan disudut kota Seoul ini.
30 menit perjalanan..
Oh tidak! Aku lupa membawa dompet. Sial!
“Eung.. ahjussi, bisakah aku membayarnya nanti? Aku tidak membawa dompet.” Ujarku saat aku sudah turun dari taxi tersebut.
Kupastikan ahjussi itu menahan amarahnya. “Kau harus membayarnya, agasshi. Tidak ada yang gratis disini.”
Oh! Mati aku! Bagaimana ini?? Eotteoke?? Eotteoke??
“Ta-ta-tapi.. aku benar-benar tidak membawa dompet.”
“Berikan saya kartu pengenal anda dan saya akan melaporkan anda ke polisi.”
MWO?! Polisi?!
“Ah ahjussi.. jebal.. sekali saja saya hutang padamu..”
“Tidak bisa!”
“Ahjussi! Jebal-yo!!”
“Tidak bisa agasshi, anda harus-”
“Berapa ongkosnya?”
Aku dan supir taxi itu terkejut tatkala sebuah suara menyeruak diantara perdebatan kami. Suara yang sangat kukenal, Hwang Zi Tao.
“10 ribu won, tuan.”
Tanpa berpikir lagi, Tao segera mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembaran uang 10 ribu won. Lalu memberikan uang itu pada supir taxi tersebut.
“Zitao-sshi..”
“Joesonghammida ahjussi, kekasihku ini sering melupakan dompetnya. Maaf sudah merepotkan anda.” Ujar Tao tanpa memedulikan pelototanku. Apa yang barusan dia bilang? Kekasihku?
“Oh.. ne, saya juga minta maaf tuan.”
Taxi itupun melesat pergi setelah sang supir memberiku sebuah death glare. Aish! Orang tua itu aneh sekali.
Dan sekarang adalah berurusan dengan Tao.
“Yak! Kenapa kau bilang aku adalah kekasihmu, eoh? Kalau ahjussi itu tau siapa kau, bisa-bisa kau dibully banyak orang.” Semburku ketika Tao mengalihkan pandangannya padaku.
“Cerewet. Seharusnya kau berterima kasih karena sudah ku tolong dari ahjussi itu. Haha, kau juga! Kenapa sampai melupakan dompetmu, eoh? Dasar.”
Aku mempoutkan bibir. Ya ya ya, sekarang dia memang benar.
“Kenapa kau kemari, huh? Mau meminta topi dan syalmu lagi?” tanyanya yang membuyarkan lamunanku dari keterpanaan melihat wajahnya yang tampan.
“Ani. Sebenarnya aku kemari ingin memberimu sesuatu.” Ucapku sembari merogoh tas selempangku. Aish! Mencari benda itu kenapa susah sekali.
Akhirnya aku menemukannya. Akupun segera mengangkat kepalaku kembali dan menyodorkan sebuah kotak 20 x 20 cm kehadapannya. Aku sedikit malu karena aku membungkusnya asal.
“Ini apa?” tanyanya sambil mengambil kotak itu dari tanganku.
“Eum.. kado dariku. Saengil chukkaeyo.” Ucapku sembari menunduk.
Saat aku mengangkat kepala, kulihat ia sudah mengeluarkan semua benda yang kuberikan padanya. Yah.. hanya benda-benda kecil. Sebuah gantungan kunci berbentuk kucing serta sebuah boneka panda.
“Mianhae.. aku hanya bisa membelimu itu, ku harap-”
“Aku menyukainya. Kau tau apa yang kusuka. Gomawo.”
CHUP!
Aku membelalakkan kedua mataku takjub. Hey! Namja bermata panda ini baru saja… mencium keningku. What the..
Belum saja aku menyemburnya dengan umpatan-umpatan tidak berperikemanusiaan, dia dengan mudahnya meraih pergelangan tanganku dan menarikku untuk mengikutinya.
“Kita akan membuat kontroversi besar sekarang. Persiapkan mentalmu, chagiya.”
Apakah kalian tau apa yang sedang ia lakukan? Ia membawaku kedalam sebuah gedung dimana disitu sedang diadakan konferensi pers EXO. Dan dengan entengnya, dia mengenalkanku sebagai kekasihnya.
“Dia kekasihku. Perkenalkan, namanya adalah (namkormu). Kuharap kalian semua menyukainya.”
Suasana gedung ricuh. Ya. Sekarang aku dihujani berbagai pertanyaan berunsur privasi dari para wartawan. Oh! Dasar si panda gila. Untung saja Tao berusaha membantuku menjawab. Kalau tidak, sudah kupatahkan lehernya sekarang juga.
“Dia atlet wushu sepertiku. Bukankah kami terlihat serasi?”
Aku baru sadar, ia memakai syalku saat konferensi pers ini. Ia bahkan tidak keberatan menjawab pertanyaan para wartawan jika syal itu adalah milikku. Jika saja dia bukan idolaku, sudah pasti aku akan melemparnya ke kandang buaya. Saranghaeyo Hwang Zi Tao .. –Me
Ulang tahun yang terindah. Aku tidak akan melupakan kenangan termanis ini. Boneka panda dan gantungan kucing ini.. serta kehadiranmu disisiku, aku akan ukir didalam hatiku. Saranghaeyo. –Zitao
END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s