Polaroid


polaroid

Title : Polaroid
Author : Park Dae Na
Genre : Romance & Sad End
Rating : Teen
Lenght : One Shoot
Casting : Lu Han EXO M & you

CKRIK! CKRIK! CKRIK!

Aku segera melihat hasil potretanku dari layar ponsel. Akh! benar-benar buruk!
“Dasar ponsel tua!” Umpatku sembari memasukkan ponsel samsung anycallku kedalam saku blazzer. Begitu aku berbalik, aku menemukan seorang namja tengah berdiri 2 meter dihadapanku. Pandangan kami saling bertemu.

“Oh.. annyeong.” Sapanya sambil membungkuk 45 derajat. Aku hanya membalasnya dengan sudut membungkuk yang sama.
“Ne, annyeong.”
Aku bisa melihat ada sesuatu yang menggantung dilehernya. Oh, andai saja aku memiliki benda itu.
Akupun mengalihkan pandangan saat namja tersebut melambai padaku.
“Ekhem. mianhae.” Ucapku berusaha sedingin mungkin.
“Ne, gwaenchana. eum.. boleh ku tau, sedang apa kau disini?”
Akupun menoleh padanya. Melihat wajahnya yang lebih cantik dariku. Aku sedikit mengagumi pahatan wajahnya yang sempurna. Dia tampan sebagai namja, dan jika dia yeoja, dia sangat cantik.
“Agasshi. Kau memikirkan apa?”
Aku tersentak begitu namja ini hanya berjarak 3 langkah dari tempatku berdiri. Cepat sekali, pikirku.
“Aku.. aku.. aku sedang mencoba mengabadikan pemandangan.” Ujarku sambil menggaruk tengkuk. Kebiasaanku saat kebingungan.
“Mana kameramu?”
SHIT! Kalau saja aku mengatakan aku hanya berjalan-jalan disini, mungkin dia tidak akan bertanya seperti itu. Aku hanya bisa menatapnya nanar.
“Ah.. joesonghammida. Aku tidak pantas mengatakan itu padamu, agasshi.”
Aku sangat memuji kesopanannya berbicara. Tapi dengan begini, bukannya malah membuat jarak yang tiada tara antara kami? Kulihat, dia seumuran denganku.
“Ne, gwaenchanayo. Kau.. asli sini?” tanyaku hati-hati. Sedangkan dia tersenyum lembut sembari memegang kamera polaroidnya.
“Aniyo. Aku asli China, agasshi. Tapi karena mengikuti pertukaran pelajar, aku sekarang berada disini. Kau sendiri?”
“Aku asli Seoul. Aku sangat memuji kemampuan berbahasamu. Kau bahkan lebih baik dariku.”
Ia tersenyum malu. Rambutnya ia acak-acak begitu saja dengan ekspresi yang sangat lucu dimataku. Pesonanya sanggup membuatku jatuh cinta secepat ini padanya.
“Hehe, kamsahammida agasshi. Ah ya, bolehkah aku mengambil fotomu?”
Keningku berkerut. Baru mengenal beberapa menit dia sudah meminta mengambil fotoku.
“Ah.. kalau kau keberatan, gwaenchanayo. Aku bisa-”
“Ne ne! kau boleh melakukan itu.”
Sekarang bergantian dia yang mengerutkan keningnya. “Kau serius agasshi?”
Akupun mengangguk sambil tersenyum. Perlahan kedua sudut bibirnya ikut terangkat yang semakin memperlihatkan betapa manisnya kedua mata rusanya.
“Aku akan sangat berterima kasih, agasshi. Bisakah kau memegang ini?” ia menghampiriku dan memberiku sebuah bunga mawar. Jantungku tiba-tiba berdegub dengan cepat dengan situasi seperti ini. Dia benar-benar memberiku setangkai bunga mawar yang sudah tidak ada durinya lagi. Perlahan aku mengambilnya dan ia pun melangkah mundur, mulai mengoperasikan kamera Polaroid coklatnya.
“Berikan senyuman terbaikmu, agasshi.”
Aku hanya menurut dan mengangkat kedua sudut bibirku. Aku memiliki senyum yang cukup sempurna. Gusiku akan terlihat dan mataku akan terpejam, banyak yang menyebutku sebagai Queen of gummy eye smile.
CKREK! Tiiiiit..
Namja itu mengambil hasil foto yang muncul dari bagian atas kamera. Namja tersebut tersenyum saat melihatnya, membuatku penasaran.
“Bagaimana hasilnya?” tanyaku tanpa beranjak sedikitpun dari tempatku berdiri sekarang.
Iapun mengalihkan pandangannya padaku. “Bisakah aku mengambil fotomu lagi? Tiga sampai 4 kali lagi.”
Aku terdiam sejenak. Memikirkan apakah aku harus menyetujui atau tidak.
“Aku akan memberimu 2 jika kau mau, agasshi.”
Akhirnya akupun mengangguk. “Baiklah. Apakah aku harus dalam pose yang sama?”
Ia menggeleng dan tetap tidak berhenti tersenyum. “Kau boleh berpose sesuka hatimu, agasshi. Tapi tolong jangan lepaskan mawarnya.”
Aku mengangguk mengerti. Akupun berpikir apa yang harus aku lakukan sekarang, dan belum saja aku menemukan jawaban, dia sudah memotretku.
“Aku belum siap.”
Dia tetap tersenyum saat memegang hasil foto yang kedua. “Kau berbakat menjadi model, agasshi.”
Akupun menghela nafas, lebih tepatnya membuang semua tekanan dalam hatiku yang sekarang sedang berbunga-bunga mendengar ucapan namja yang tidak kukenal tersebut.
CKREK! Tiiiit..
Lagi! Dia mengambil fotoku saat aku belum sepenuhnya siap berpose. Aku ingin memarahinya, tapi senyuman itu sanggup membuatku mengurungkan niat.
“Agasshi, sebagai permintaan terima kasihku, maukah kau pergi makan siang denganku?”
~
Hasilnya memang bagus. Tanpa berpose pun, aku memang sudah terlihat berpose. Tak henti-hentinya aku memuji bakat memotretnya.
“Kau memang berbakat menjadi fotografer. Andaikan saja aku memiliki kamera, sudah pasti aku bisa mengabadikan semua pemandangan.” Gumamku yang sepertinya terdengar olehnya.
Saat ini kami berada disebuah restoran China. Kami mengambil tempat yang dekat dengan kaca. Kami duduk berhadapan dan kami sedang menunggu pesanan.
“Aku hanya gemar memotret, agasshi. Bukan berarti aku ingin menjadi fotografer.” Celetuknya sembari memainkan rubik kubusnya.
“Ah.. tapi kau memang pantas menjadi fotografer. Oh ya, kalau boleh aku tau, siapa namamu?”
Matanya pun beralih padaku. Ia membuat seulas senyum yang menambah ketampanannya.
“Namaku Luhan. Lalu namamu siapa?”
“Aku (namkormu). Senang berkenalan denganmu, Luhan-sshi.”
Ia tersenyum yang bertepatan dengan berhasilnya ia menyelesaikan misteri rubiknya. Hal itu membuatku terkejut.
“Nado.” Ujarnya sembari meletakkan rubiknya diatas meja. Tak berapa lama, dua orang pelayan wanita datang dan meletakkan dua mangkuk Mapodoufu beserta dua gelas jus apel dihadapan kami.
“Silakan dimakan, agasshi. Maaf, aku tidak membawa uang banyak, jadi aku hanya bisa membeli ini.”
Akupun tersenyum. “Gwaenchanayo Luhan-sshi. Setidaknya sampai rumah nanti aku tidak perlu sibuk memasak lagi.”
Ia terkekeh mendengar jawabanku.
~
Sebulan sudah kami saling mengenal. Dengan rentang waktu yang cukup lama itu, hubungan kami semakin dekat. Aku jadi tau setengah kisah kehidupannya. Ia sejak SMA tinggal di asrama, ia adalah anak yang cerdas dijenjangnya, ia sangat suka berolahraga dan dia bercita-cita menjadi seorang penyanyi, walaupun kedua orang tuanya sangat tidak menyetujuinya.
Dan saat ini, dia adalah kekasihku. Kami baru saja berkencan beberapa hari lalu.
“Little deer oppa.. kau tidak mau es krim?” tawarku sembari mengangkat es krimku. Dia menjawab dengan gelengan kepala. Akhir-akhir ini dia sedikit lemas.
“Kau sakit?” lagi-lagi dia menggeleng. Aku sedikit sakit hati karena ia selalu menjawab dengan gelengan atau anggukan, dan terkadang ia juga tersenyum.
Aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Dia juga balas menggenggam tanganku.
“Oppa.. katakan padaku, ada apa denganmu sebenarnya?”
Ia menatapku, tersenyum dan menggeleng. “Gwaenchana, geokjeongma.”
Aku menghela nafas. Kurebahkan kepalaku diatas pundaknya. Aku selalu berharap tidak ada hal buruk yang terjadi.
“Aku benci kau seperti ini, oppa. Katakan padaku. Kau membuatku berpikir hal yang tidak-tidak.”
Aku merasakan tangannya yang hangat mengelus pelan rambutku. Aku sedikit terlena dengan kelembutannya. Aku sangat mencintai namja ini.
“Chagiya.. besok.. bisakah kita bertemu ditempat pertama kali kita bertemu? Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
“Kenapa tidak sekarang saja, oppa?”
“Kurasa waktu yang tepat adalah besok. Kumohon datanglah sebelum jam 6 sore.”
CHUP!
Ia mengecup puncak kepalaku dengan perlahan dan lembut. Aku semakin yakin, pasti ada sesuatu yang sedang terjadi disini.
“Kajja kita pulang.” Ia pun meraih tanganku dan menarikku untuk mengikuti kemana ia pergi. Oh tuhan! Jangan biarkan dia pergi dariku.
~
Esoknya pukul 5.30 sore
Aku pun berhenti setelah berjarak 5 langkah didekat namja yang sedang membelakangiku. Jika saja bukan karena jaket baseballnya, aku pasti tidak bisa mengenalinya karena rambutnya dicat berwarna coklat.
“Oppa..”
Ia pun berbalik. Sungguh, dia terlihat semakin tampan jika warna rambutnya seperti itu. Ia berjalan menghampiriku. Aku baru sadar jika ia membawa sebuah kotak seukuran kotak sepatu. Tiba-tiba saja firasatku mengatakan, dia akan meninggalkanku saat ini juga.
“Chagiya..”
Chup!
“Saranghaeyo.” Lanjutnya setelah mengecup keningku. Akupun mengangkat kepala, melihat wajahnya yang berada diatas kepalaku. Senyumnya kali ini berbeda. Pancaran matanya pun tidak menunjukkan kebahagiaan. Aku semakin takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Oppa.. apa yang akan kau katakan?”
Ia lagi-lagi tersenyum.
“Mianhaeyo chagiya. Ini akan menjadi hari terakhir kebersamaan kita-”
“Jangan katakan!” teriakku spontan. Aku menutup kedua telingaku dengan telapak tanganku. Aku sudah tidak bisa membendung emosiku lagi. Air mata meleleh dari kedua mataku yang terpejam.
“Jeongmal mianhae chagiya. Aku harus melakukan ini. Aku tidak mau menyeretmu dalam masalah besar nantinya. Na jeongmal saranghae.” Ia mengelus surai rambutku yang terurai. Aku bisa mendengar semua yang ia katakan barusan, tapi itu sangat menyakitkan untukku. Bagaimana bisa… secepat ini..
“Inilah kesempatanku menjadi penyanyi, chagiya. Aku-aku.. mianhaeyo. Aku sangat mencintaimu, keuraeyo.” Iapun memelukku, semakin membuat air mataku menganak sungai. Aku belum bisa menerima kenyataan ini.
“Hajima..” ucapku singkat.
Ia meresponnya dengan mengelus rambutku. “Aku hanya mencintaimu.. sungguh.”
Aku berharap, waktu berhenti saat ini juga.
Ia pun melepaskan pelukannya, meraih tanganku dan memberikanku kotak yang ia bawa.
“Ini untukmu. Tolong jaga mereka dengan baik.”
Aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca dan hidungnya yang memerah. Dia ‘sang namja’, dia sangat anti dengan menangis.
Aku menerima kotak itu. Segera aku membukanya dan melihat beberapa benda yang cukup aku kenal jika semua ini milik Luhan.
Rubik, headset, mug, dua buah fotoku dan… kamera Polaroid.
Aku semakin terisak. Aku semakin tidak rela dia pergi begitu saja. Aku meraih kamera berwarna coklat itu. Aku meletakkan terlebih dulu kotak tersebut dibawah pohon, lalu akupun mengoperasikan kamera itu.
“Oppa.. sebelum kita benar-benar berpisah dan tidak bertemu lagi, bolehkah aku memoteretmu? Tiga sampai empat kali mungkin.”
Dia tersenyum dan mengangguk pelan.
Akupun mundur beberapa langkah. Kuangkat kamera ini hingga setinggi wajahku, kupejamkan sebelah mataku dan menempelkan kamera itu ke wajahku.
“Berikan senyuman terbaikmu, oppa.”
Ckrik! Tiiit .. Ckrik! Tiiiit… Ckrik! Tiiit…
Aku menggenggam semua hasil jepretanku. Semuanya hampir sama. Luhan yang tengah bersedih dengan menatapku, Luhan yang berusaha menahan tangisnya, dan Luhan yang memberiku sebuah senyum rusanya.
Aku benar-benar tidak bisa menahan tekanan dihatiku. Segera aku berlari kearahnya dan memeluknya erat. Sekali lagi aku pinta padanya,
“Hajima..”
~
Seminggu berlalu..
Saat aku iseng berjalan-jalan menyusuri jalanan besar di kota Seoul, perhatianku teralihkan saat melihat orang-orang berkerumun disudut jalan Gangnam melihat sesuatu yang ada disebuah truk.
Karena rasa penasaranku yang tinggi, akupun melangkah kesana ingin melihat apa yang mereka lihat.
Aku hampir saja gagal menjangkaunya karena kerumunan orang-orang semakin bertambah tiap menitnya. Tapi.. saat aku melihat truk tersebut, sekujur tubuhku membeku seketika.
“Lu… han..” gumamku lirih.
Sungguh! Ditubuh truk itu terdapat sebuah video singkat yang menampilkan dua sosok namja. Satu namja ku kenal sebagai idol baru EXO, yaitu Kai. Dan satunya lagi… Luhan.
“KYAAAA!!! LUHAN!!”
“Benarkah itu dia?” gumamku takjub.
Luhan, dia semakin terlihat tampan dan memesona dengan gerakan dancenya. Aku baru menyadari, inilah cita-cita yang sangat diinginkannya. Inilah alasan kenapa dia masih berada di Korea meskipun waktu pertukaran pelajarnya sudah habis. Inilah alasan mengapa ia memutuskanku seminggu lalu. Rupanya ia menjelma menjadi sosok yang sangat hebat dimataku.
Little deer oppa… kuharap kau menjadi orang hebat nantinya. Tolong jangan lupakan aku. –Me
Chagiya.. apa kau melihatku disana? Inilah alasan mengapa aku harus menjauhimu. Aku janji akan kembali padamu jika saat itu tiba. Aku selalu mencintaimu. Saranghae. –Luhan
-End-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s