Machine


machine

Author : Park Dae Na
Title : Machine
Genre : sad, romance, mystery
Rating : teen
Length : One Shoot
Casting : Byun Baekhyun (EXO), Yoon Ahreum (OC)

Disuatu ruang gelap yang hanya diterangi oleh sebuah lilin, terdengar suara alunan piano yang menggema. Seorang lelaki berjas hitam tengah duduk dihadapan grand piano tersebut. Ia lah yang memainkan nada-nada itu.

Tiga menit berlalu…
Tangan lelaki itu terjatuh lemas, menggantung. Pandangannya lurus dan tatapannya kosong. Ia pun memejamkan mata beberapa saat kemudian.
Tiba-tiba terasa sesuatu yang kecil dan dingin menyentuh pundaknya. Lelaki itu membuka matanya perlahan, lalu menoleh.
Lagi-lagi sosok menakutkan. Sosok dengan mata merah dan menatapnya tajam. Tapi.. lelaki ini merasakan kelembutan didalam sosok itu. Ia, lelaki ini seperti biasa tersenyum.
“mianhae..”
Sosok itu tidak merubah ekspresinya. Sosok itu hanya menurunkan tangan.
Lelaki itu menunduk, senyumnya luntur. Beberapa saat setelah mendesah, ia pun bangkit lalu berjalan menghampiri yeoja menakutkan itu. Tanpa banyak berkata apapun lagi, ia langsung memeluknya.
Meskipun temperature tubuh yeoja itu lebih dingin darinya, tapi dia benar-benar merasakan kehangatan. Tak peduli sedingin apapun, ia memeluk yeoja itu dengan sangat erat bahkan mengecup pelan kepala yeoja tersebut.
“mianhae.. aku sudah membuatmu seperti ini.. jeongmal mianhae..”
Yeoja itu tak berkutik. Berkedippun tidak.
“sejak awal seharusnya kita tidak bertemu. Aku benar-benar menyesal sekarang. Aku hanya bisa minta maaf padamu..”
Flashback
BUGH!
Baekhyun terpental hingga menabrak dinding tatkala ayahnya memukulnya. Ia hanya bisa meringis kesakitan sambil memegangi pipinya yang agak bengkak.
“babo! Kenapa kau membiarkannya pulang, ha?! Bukankah sudah kubilang, biarkan saja dia disini! Kau tidak tau kalau ayahmu ini membutuhkan anak sepertinya! Dasar anak tak bisa diandalkan!”
Baekhyun pun perlahan bangkit. “dia bukan bahan percobaan, appa… dia yeoja yang sangat ku cintai..”
“haha. Cinta katamu! Appa sudah muak dengan cinta, apalagi dengan perempuan! Kau tau, eommamu yang murahan itu sudah mengkhianati appa! Aku tidak ingin kau berhubungan dengan yeoja manapun! Berikan dia padaku!”
Baekhyun membuang pandangannya. “aku namja, appa. Aku butuh yeoja..”
“kau!!” pria berpakaian ilmuwan itu langsung menendang perut Baekhyun dan membuat Baekhyun kembali terpental ke dinding.
Kali ini bukan hanya pipinya saja yang sakit, perutnya pun terasa sangat sakit karena injakkan itu. Baekhyun hanya bisa meringis kesakitan tanpa berkeinginan untuk membalas. Ia tau kondisi, ia adalah seorang anak.
“besok, jika kau tidak memberikan dia padaku, maka aku yang akan menjadikanmu bahan percobaanku. Ingat itu!” pria itupun beranjak pergi.
Baekhyun tak bisa melakukan apapun selain memegangi perutnya dan meringis kesakitan.
“aku… tidak akan biarkan itu terjadi..” gumamnya.
Esok harinya..
Seperti biasa Baekhyun berangkat sekolah. Ia pergi dengan berjalan kaki. Baru setengah perjalanan, seseorang mengagetkannya dengan menutupi kedua matanya. Namun saat mencium bau yang sudah terbiasa di paru-parunya. Ia tersenyum, senyum masam tepatnya.
“Ahreum-ah.. ini kau kan..”
Orang itu menurunkan tangannya lalu merubah posisinya disamping Baekhyun. Saat Baekhyun membuka mata, yeoja itu tersenyum.
“annyeong oppa..” sapanya sambil tersenyum dan melambai.
Baekhyun tersenyum tipis. “hm.. bagaimana kabarmu hari ini?”
“sangat baik. Kau?”
Baekhyun lagi-lagi tersenyum tipis. “bisa kau lihat sendiri.”
Raut wajah yeoja itu berubah murung. “ah oppa.. kau kelihatan kurang baik hari ini. Pipimu bengkak.. ada plester diujung bibirmu..” ujarnya sambil menyentuh pelan ujung bibir Baekhyun yang telah dipasang sebuah plester.
Baekhyun meraih tangan yeoja itu lalu menurunkannya. “aku baik-baik saja. percayalah..”
“jeongmal?” seru Ahreum tak percaya.
Baekhyun mengangguk pelan.
“setiap hari aku menemukanmu kesakitan oppa… apa sebenarnya yang terjadi di rumahmu? Kemarin aku kesana, suasana baik-baik saja.” ujar Ahreum sembari mengaitkan tangannya pada lengan Baekhyun.
Baekhyun memandangi yeoja itu lekat. “jangan kembali lagi ke rumahku.”
“wae? Kau tidak suka aku ada di rumahmu?” Tanya Ahreum sedikit kecewa.
“aniya. Aku hanya tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu.” Baekhyun tersenyum untuk meyakinkan yeoja itu.
“tapi kalau aku merindukanmu, aku boleh tidak kesana?”
“hubungi aku dulu sebelum datang.”
Ahreum tersenyum. “keurae.”
Mereka pun berjalan menyusuri trotoar menuju sebuah sekolah. Meskipun suasana diantara mereka sangat hangat karena candaan Ahreum, tapi perasaan Baekhyun tetap sama. Ia takut kehilangan Ahreum hanya karena ego ayahnya. Dia sangat mencintai yeoja ini.
Sepulang sekolah
Selesai mengantarkan Ahreum pulang, Baekhyun pun telah sampai di rumahnya. Seperti hari-hari sebelumnya. Suara-suara menakutkan itu sudah menjadi suara yang biasa ditelinganya. Ia hanya bisa menghela nafas lemah lalu memasuki kamarnya.
Hanya kamarnyalah tempat yang paling tenang. Disini ia tak bisa mendengar suara teriakkan wanita dari laboratorium ayahnya. Di ruangan ini ia hanya bisa mendengar suara televisi dan music yang ia sukai.
Baekhyun melemparkan tasnya keatas ranjang lalu berjalan mendekati sebuah grand piano. Saatnya ia menuangkan perasaannya.
Jemari lentiknya menekan perlahan-lahan tuts piano. Meski dengan mata terpejam ia bisa melakukannya dengan benar. Saking seriusnya, ia sampai tidak sadar jika matanya menjadi basah.
10 menit berlalu. Tangannya jatuh lemas, menggantung. Matanya yang basah menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong. Ia selalu seperti itu setelah memainkan piano. Membayangkan sosok adik perempuannya datang menemuinya dan menghapus air matanya. Namun, itu sepertinya hanya akan menjadi bayangan dalam pikirannya. Adiknya pun telah ikut mati bersama ibunya, karena ulah ayahnya tentu saja.
Tiba-tiba, ia mendengarkan sesuatu yang mungkin suatu teriakan, tapi terdengar samar. Ia pun menajamkan telinganya untuk menyimak suara itu.
“oppa!!! … waaa!! Aku tidak mau!!! … Baekhyun- oppa!!!”
Ia kenal suara ini. Secepat mungkin ia segera bangkit dari duduknya lalu berlari mencari asal suara tersebut.
Tak sampai 3 menit, Baekhyun telah sampai di laboratorium ayahnya. Firasatnya benar, Ahreum sekarang sudah ada didalam ruangan menakutkan itu.
“HENTIKAN APPA!!” teriaknya sambil berlari menuju pintu.
Sayangnya.. pintu kaca itu terkunci. Ia panic. Didalam, ayahnya tengah mengoperasikan alat-alat yang akan membuat mesin didalam sebuah tabung besar bekerja. Ironisnya, sosok yang terkekang didalam tabung besar itu adalah yeojanya.
Baekhyun tak kehabisan akal, ia segera mengambil tongkat besi yang ada dibelakangnya, lalu ia pecahkan pintu kaca itu dan berlari masuk.
“kau sudah terlambat.” Cibir ayahnya sambil menekan tombol ‘ON’.
“ANDWAE!!!!!!!!!!!!!!!!” Baekhyun berlari menghampiri ayahnya dan mencari tombol ‘OFF’, tapi.. cahaya yang menyilaukan didalam tabung itu membuat perhatiannya teralihkan.
Air mata Baekhyun mengalir. Kali ini, kali kedua ia melihat penyiksaan seperti ini dengan mata kepalanya sendiri. Kali ini yeojanya adalah korban. Yeoja itu berteriak memanggil namanya dan badannya berguncang hebat terkena aliran listrik. Baekhyun tak bisa lakukan apapun selain menggigit bibir bagian bawahnya dan mengulurkan tangannya menyentuh kaca tebal tabung itu.
“mianhae… mianhae…” gumamnya lirih.
“itulah hukuman untuk para perempuan.” Ujar ayahnya enteng sembari beringsut dari tempatnya duduk.
Baekhyun tak terima dengan ucapan ayahnya saat ini. Ia segera mengambil tongkat yang ada disampingnya lalu…
BUGH!
Pria berjas putih ilmuwan itu pun terkapar tak berdaya dengan kepala penuh darah.
Gigi Baekhyun bergemerutuk. Ia menjatuhkan tongkat itu lalu berjalan menghampiri pengontrol mesin tabung tersebut. Dengan cepat ia menekan tombol off, yang seketika cahaya yang menyilaukan didalam berhenti.
Menghela nafas sejenak, ia membopong tubuh yeoja yang kali ini terasa dingin itu menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuh yeoja itu diatas tempat tidurnya. Sedangkan ia sendiri duduk disampingnya. Tangannya perlahan mengelus rambut yang awalnya lembut sekarang menjadi kusut.
“mianhae.. jeongmal mianhae..” gumamnya lirih.
Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya. “aku akan menebus dosaku.. aku akan menjagamu… sampai aku mati..” lanjutnya diakhiri dengan mengecup lembut dahi Ahreum.
“kau tetap Ahreumku, meskipun wujudmu robot..”
Flashback End
“aku sangat merindukanmu Ahreum-a.. apa kau bisa merasakan rasa rinduku??” bisiknya dengan masih tetap memeluk yeoja itu.
Tak ada jawaban. Itu pasti.
Baekhyun tak bisa menahan tangisnya. “hanya kau.. satu-satunya keluarga yang kumiliki sekarang. Hajima…”
Entah keajaiban atau apa, tiba-tiba tangan yeoja itu mengelus punggung Baekhyun, bahkan mengucapkan sebuah kata yang menyangkut perasaan, sesuatu yang tak dimiliki robot.
“saranghae..”
Baekhyun tersentak sesaat. Ia melepaskan pelukan itu. Lalu matanya menatap lekat-lekat kedua mata Ahreum yang awalnya merah perlahan berubah menjadi normal. Bibir yang terlihat kaku dan datar, sekarang membentuk lengkungan sempurna. Suhu tubuh yang awalnya terasa dingin, sekarang bahkan hawa hangatnya bisa terasa dikulitnya. Baekhyun masih merasa ini mimpi baginya.
“Ahreum-ah…”
Yeoja itu masih tersenyum dengan bola mata bergerak-gerak menatap Baekhyun.
“aku tidur terlalu lama ya?? Kau sepertinya terkejut melihatku?”
Baekhyun membelalakkan kedua matanya. Ia segera menarik yeoja itu kedalam pelukannya. Lagi-lagi air matanya tak bisa terbendung.
“chagiya!! Jeongmal bogosippeo!!” teriaknya dengan memeluknya erat.
“oppa!! Nado bogosippeo!! Kau tau tidak, aku merasa seperti tidur bertahun-tahun!! Aku kira aku sudah tidak bisa menemuimu lagi!!” teriak Ahreum yang juga tak kalah eratnya saat memeluk Baekhyun.
“kau sudah melalui tahun-tahun yang kelam, chagi!! Aku bahagia kau bisa terbangun!!”
“benarkah aku benar-benar sudah tidur bertahun-tahun??” Tanya Ahreum penasaran.
Baekhyun spontanitas mengangguk. “ne, kau sudah seperti mayat hidup selama 3 tahun. Kau tau? Aku kesepian menunggumu bangun.. kau memang menemaniku selama ini, tapi dengan wujud menakutkan. Chagi… saranghae.. hajima..”
“jeongmal? Omo… aku tidak akan meninggalkanmu oppa..”
Semenjak sadarnya Ahreum, Baekhyun membawa yeoja itu untuk meninggalkan rumah yang begitu kelam baginya. Mereka, yang sekarang berusia 20 tahun dan 23 tahun, hidup bersama disebuah rumah yang tak begitu jauh dari area kampus mereka. Baekhyun tak menceritakan apapun mengenai sesuatu yang terjadi pada Ahreum 3 tahun silam, ia hanya mengatakan jika Ahreum hanya tidur bertahun-tahun, itu saja.

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s